.
Diberdayakan oleh Blogger.

FAIDAH BASMALLAH DAN MAKNANYA

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala perkara yang baik yang hendak kita kerjakan hendaknya kita awali dengan bacaan basmalah karena hal tersebut dalam rangka:

1.Mengikuti al Quran ,karena Al Quran dimulai dgn basmalah
2.Ittiba pada hadits nabi

كل امر ذي بال لا يبدأ ببسم الله فهو ابتر

"Setiap perkara yang penting yang tidak dimulai dengan basmalah maka ia terputus."
( As suyuthi di dlm kitab al jami'us shaghir dan diriwayatkn Al khatib dlm Al Jami')

3.Mengikuti rasul saw, karena beliau memulai tulisan2nya dengan basmalah.

Faidah diawalkannya jar majrur(Bismillahi) daripada Arrahmanirrahiim.

1.Untuk tabarruk(mengambil berkah) dengan memulai dengan nama Allah.
2.Berfaidah pembatasan(yaitu hanya dengan nama Allah saja, bukan dengan nama selainNya) ,karena diawalkannya muta'alliq berfaidah hashr(pembatasan) .

Allah, Arrahman dan Arrahiim

Allah adalah nama bagi dzat yang mengadakan segala sesuatu(Al baari)  dan ia adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama Allah.

Arrahman Salah satu nama dari nama2 Allah yang khusus bagi Allah, dan tidak boleh dipakai untuk selainNya.
Arrahman maknanya adalah yang disifati dengan rahmat yang luas, yakni rahmat bagi seluruh alam ini.

Arrahim dipakai untuk nama Allah dan selainNya.
Arrahim bermakna yang memiliki rahmat yang sampai pada hamba2Nya yang dikehendaki.

Arti Rahmat Dalam Beberapa Ayat

Kata rahmat dalam beberapa ayat al-Qur'an mempunyai beberapa makna beragam, diantaranya:

1. Islam, yakni dalam ayat:

يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ

Allah menentukan rahmat-Nya [kenabian] kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Q.S.Ali-Imran: 74).

2. Iman, seperti dalam firmanNya:

قَالَ يَـٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ۬ مِّن رَّبِّى وَءَاتَٮٰنِى رَحۡمَةً۬ مِّنۡ عِندِهِۦ فَعُمِّيَتۡ عَلَيۡكُمۡ أَنُلۡزِمُكُمُوهَا وَأَنتُمۡ لَهَا كَـٰرِهُونَ

Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?" (Q.S. Hud: 28). 

3. Surga, yakni dalam ayat yang berbunyi:

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱبۡيَضَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فَفِى رَحۡمَةِ ٱللَّهِ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah [surga]; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Ali-Imran: 107).

4. Hujan. sesuai dengan bunyi ayat berikut:

وَمَن يُرۡسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ بُشۡرَۢا بَيۡنَ يَدَىۡ رَحۡمَتِهِۦۤۗ أَءِلَـٰهٌ۬ مَّعَ ٱللَّهِۚ تَعَـٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشۡرِڪُونَ

dan siapa [pula] kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum [kedatangan] rahmat-Nya? [4] Apakah di samping Allah ada tuhan [yang lain]? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan [dengan-Nya]. (Q.S. An-Naml: 63).

5. Rezeki. Ini makna pada firman Allah Ta'ala:

قُل لَّوۡ أَنتُمۡ تَمۡلِكُونَ خَزَآٮِٕنَ رَحۡمَةِ رَبِّىٓ إِذً۬ا لَّأَمۡسَكۡتُمۡ خَشۡيَةَ ٱلۡإِنفَاقِۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَـٰنُ قَتُورً۬ا

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Q.S. Al-Isra': 100).

6. Kesehatan. Berdasarkan firman Allah Ta'ala:

 قُلۡ أَفَرَءَيۡتُم مَّا تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَنِىَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ هَلۡ هُنَّ كَـٰشِفَـٰتُ ضُرِّهِۦۤ أَوۡ أَرَادَنِى بِرَحۡمَةٍ هَلۡ هُنَّ مُمۡسِكَـٰتُ رَحۡمَتِهِۦۚ قُلۡ حَسۡبِىَ ٱللَّهُۖ عَلَيۡهِ يَتَوَڪَّلُ ٱلۡمُتَوَكِّلُونَ

Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Az-Zumar: 38).

                   ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                   


 “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”


Bersama Al-Qur'an


Potensi keagungan pribadi seorang Muslim terkait dengan kesetiaannya kepada Alquran, pada hidupnya bersama Alquran. Caranya dengan  membaca, merenungkan, mengamalkan, dan menghafalkannya.

Hal itu sangat penting, sebab Alquran itu membawa berkah. Allah SWT menegaskan, 

“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” 
(QS Shad [38]: 29).

Orang yang mengamalkan Alquran  akan diberkahi. Orang yang mengajarkan Alquran  akan diberkahi. Orang yang menjadikannya bacaan untuk kesembuhan akan diberkahi. Begitu pula, orang yang mencari kesembuhan jiwa dan badan dari Alquran akan diberkahi.

Barangsiapa mencari kecukupan hidup, Alquran akan mencukupinya. Barangsiapa yang mencari kesembuhan darinya, Alquran akan memberinya kesembuhan. Dan barangsiapa meminta perlindungan dari yang menurunkan Alquran, niscaya Dia akan memberinya perlindungan. Sebaliknya, barangsiapa mencari petunjuk selain dari Alquran, maka Allah SWT akan membuatnya tersesat, menjadikannya buta dan terhina, serta menjatuhkan hukuman. Demikian kata Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, MA, dalam bukunya yang berjudul “Nikmatnya Hidangan Alquran”.

Lalu, apakah artinya orang-orang yang saat ini terhina hidupnya atau sakit jiwanya atau badannya atau tidak ada kecukupan hidup, karena tidak ada berkah Aluran,  karena selama ini tidak membaca Alquran? Hal ini, dapat terjawab sendiri oleh pribadi-pribadi Muslim terkait, atas pribadinya, dengan cara mendeteksi diri sendiri, apakah ada kesetian kepada Alquran selama hidup ini?

Jika jawabannya, tidak ada kesetiaan, berarti sekarang saatnya  untuk memulai membaca Alquran, sebagai solusinya. Jika belum mampu membacanya, memulainya dengan mempelajari Alquran.

Alquran  terdiri dari 30 juz. Jika kita  membaca satu juz per hari, berarti dalam sebulan atau 30 hari kita dapat mengkhatamkan Alquran satu  kali. Satu tahun berarti kurang lebih 12 kali. Masya Allah, jika selama ini kita  tidak pernah menyelesaikan satu  juz pun per tahun, berarti ini suatu kemajuan yang luar biasa. Jika 12 kali khatam setahun, untuk usia 40 tahun ke depan, misalnya,  kita bisa mengkhatamkan 12x40 = 480 kali khatam.

Kita bahkan bisa meningkatkan tadarus kita menjadi dua, tiga, empat, bahkan hingga lima juz per hari. Lima juz per hari masih memungkinkan. Banyak pribadi Muslim yang dapat melakukannya, sebagai aplikasi keimanan atau kesetiaanya kepada Alquran.

Hitungannya, membaca Alquran  satu juz lamanya satu jam. Diasumsikan pada pribadi Muslim yang berprofesi sebagai dosen, satu  juz sama dengan satu  SKS  mengajar. Pribadi Muslim berprofesi dosen, banyak yang memiliki kemampuan mengajar  6 SKS per hari, bahkan sampai 10 atau 12 SKS.

Untuk profesi dosen,  membaca satu  juz Alquran  yang sama dengan satu SKS  mengajar, tidak berat. Hal itu  karena kemampuan dosen mengajar minimal enam  SKS dapat dilakukan. Aktivitas mengajar lebih berat dibanding membaca. Dosen juga merupakan pribadi terdidik dan terbiasa dengan membaca.Hitungannya, jika sehari membaca lima  juz memungkinkan, untuk membaca satu  juz perhari atau one day one juz (ODOJ), sangat lebih memungkinkan lagi. Semoga istiqamah. Aamiin.

Jika masing-masing pribadi Muslim Indonesia hidupnya diberkahi Alquran, dengan cara rajin membaca Alquran, insya Allah Indonesia menjadi negara yang penuh berkah. Mari kita rutinkan membaca Alquran setiap hari untuk keberkahan pribadi kita dan juga negara Indonesia tercinta.


Sumber Republika, Oleh Rini Nuraini

Mengajak Amal Soleh Kepada Anak " Sholat Subuh "

Anak-anak memiliki rasa antusiasme tinggi untuk melakukan sesuatu yang baru, mencoba hal-hal baru, karena memiliki keingin tahuan yang tinggi.

Kebaikan-kebaikan yang selalu disampaikan dapat mempengaruhinya, Inilah salah satu yang dilakukan TPQ Al-Istiqomah dengan mengajak anak santrinya untuk melakukan sholat Subuh di Masjid.

Hari Ahad tgl 23 November 2014 kegiatan subuh dimasjid diprogramkan untuk kelas IV, anak-anak yang rerata umurnya 9 – 10 tahun ternyata hadir antusias untuk sholat berjamah dimasjid.

SubhanAllah, dengan pendekatan yang tepat member pemahaman yang terus – menerus ternyata mereka mau untuk memenuhi ajakan guru pendampingnya.

Smoga kekuatan Allah berikan kepada guru dan orang tua para santri untuk semangat mendampingi dan memberikan bimbingan yang terus-menerus dengan kesabaran ekstra tinggi.

AF/alistiqomah  

Mengajar Shalat Anak


Oleh : R. Marfu Muhyiddin Ilyas, MA
SHALAT adalah ajaran dan amalan terpenting dalam Islam. Shalat juga satu-satunya kewajiban dalam Islam yang wajib diperintahkan kepada orang yang belum wajib melakukannya. 
Adalah Rasulullah saw yang mengisyaratkan hal itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, Baihaqi, dan Ahmad, Rasulullah saw menegaskan, “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat bila mereka telah berumur 7 tahun. Pukullah mereka karena tidak shalat bila telah berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dari tempat tidur kalian.”
Dalam Islam, usia minimal baligh adalah 9 tahun. Setelah mencapai usia ini, maka seorang anak telah dinilai dewasa dan mandiri di hadapan Allah swt. Seluruh tingkah laku dan amal perbuatannya menjadi tanggung jawabanya sendiri. Dia mulai menorehkan pahala untuk kebaikan yang dilakukannya, dan dosa untuk maksiat yang diperbuatnya.
Namun berkenaan dengan perintah shalat, hadits di atas menyebut angka 7 tahun sebagai permulaan pembelajaran shalat. Dengan kata lain, shalat wajib diajarkan kepada anak-anak kecil yang belum baligh, minimal ketika mereka sudah menginjak 7 tahun. Kewajiban mengajarkan shalat kepada anak yang belum wajib melakukannya menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim. Shalat wajib diajarkan meskipun belum wajib dikerjakan.
Lalu bagaimana shalat seharusnya diajarkan? Merujuk pada hadits shalat di atas, maka pembelajaran shalat dapat diurutkan  ke dalam tiga fase, yaitu fase 0 – 7 tahun, fase 7 – 10 tahun, dan fase 10 – dewasa.
Fase 0 – 7 tahun
Fase ini merupakan fase yang sangat menentukan dalam pembelajaran shalat. Target pembelajaran pada fase ini adalah mengenalkan shalat kepada anak, dan mengenalkan kepada siapa shalat dilakukan. Sebagai fase pengenalan, pembentukan motivasi adalah porsi terbesar yang harus diberikan kepada anak.
Pada tahap inilah motivasi-motivasi spiritual kepada anak ditanamkan. Selain mengenal shalat, dengan motivasi spiritual anak juga akan mengenal Allah swt yang kepada-Nya shalat dilakukan. Pada tahap ini anak belum diberi hukuman bila tidak shalat, sebab kalau pun tidak shalat anak belum dinilai berdosa atau membangkang terhadap Allah swt.
Hal-hal yang perlu dikenalkan mengenai shalat kepada anak dimulai dari adanya ibadah shalat dalam Islam, nama-nama shalat, waktu shalat, bilangan rakaat shalat, tempat shalat, dan tata-cara shalat. Pengenalan ini adalah upaya membentuk kesiapan anak sehingga ketika dia mencapai usaia 7 tahun dan mulai diperintah shalat, anak sudah memiliki kesiapan secara mental dan emosional. Dengan demikian perintah shalat pada fase itu, bukan lagi sebatas doktrinasi yang otoriter, namun penyadaran akan motivasi yang telah dibangun selam 3 – 4 tahun lamanya.
Namun demikian, yang terpenting harus dikenalkan sejak dini kepada anak pada fase ini adalah jawaban dari mengapa harus shalat dan kepada siapa shalat dipersembahkan. Melalui metode dialog yang penuh keakraban anak dikenalkan tentang peranan-peranan  Allah swt dalam hidupnya. Bahwa Allah swt adalah penciptanya, yang memberinya anggota tubuh lengkap, yang menjaganya dari bencana, yang memberinya rejeki sehingga bisa makan, minum dan berpakaian, merupakan kata-kata kunci mengenalkan Allah swt pada anak.
Selanjutnya shalat dikenalkan kepada anak sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah swt yang telah begitu baik kepadanya. Shalat adalah kendaraan yang akan membawa anak bertemu Allah swt, seperti juga dia berkendaraan mobil untuk bertemu dengan keluarga atau tempat yang disenanginya. Kalimat-kalimat tersebut adalah contoh bagaimana shalat dikenalkan kepada anak sebagai sesuatu yang perlu dan menarik untuknya. Kalimat-kalimat dialog ini dapat dikembangkan dengan memperhatikan pola pikir dan perkembangan mental anak.
Karena fase ini lebih berorientasi pada pengenalan shalat maka motivasi materil, intimidasi, dan hukuman sangat penting untuk dihindari dan dijauhkan dari pembelajaran shalat kepada anak. Motivasi materil seperti shalat lah nanti Ayah beri uang, Ayo shalat nanti Ibu belikan mainan, dan sejenisnya akan merusak pemahaman anak tentang shalat.
Motivasi seperti ini sangat berbahaya bagi anak, karena bukan spiritualisasi yang dibangun, melainkan materialisasi. Begitu pula mengintimidasi anak dengan hukuman atau bahkan menghukumnya karena tidak shalat, akan berakibat pencitraan shalat sebagai beban berat dan menakutkan bagi anak. Dialog dan pengenalan, adalah kata kunci pada fase ini.
Bagaimana bila dengan dialog dan pengenalan itu, anak tidak serta merta melakukan shalat? Harus diakui masih banyak orang tua yang memiliki pola pikir instan dan menempuh cara-cara yang instan pula. Mengadopsi istilah dalam pembelajaran bahasa, setiap anak akan mengalami sebuah proses yang disebut dengan silent periode atau masa sunyi.
Pada masa sunyi ini anak menangkap informasi, menyimpannya dalam ingatan, dan mengolahnya menjadi sebuah konsep, dan mengubahnya menjadi sebuah potensi. Setelah masa ini terlewati, maka anak akan masuk ke dalam periode bunyi, di mana dia mulai menunjukkan respon terhadap motivasi yang telah diterimanya.
Konsep silent periode dapat juga dianalogikan dengan menyiram bunga. Bunga yang disiram tidak serta merta memunculkan bunga atau langsung mekar, melainkan diisapnya dulu air siraman itu, diendapkan dan diolah menjadi energi. Selang beberapa hari, barulah berbunga, mekar, dan menebar pesona.
Seperti itulah seharusnya pembelajaran shalat kepada anak dipahami. Dalam konteks pembelajaran shalat, dialog dan pengenalan itu akan berbekas dalam diri anak untuk masa depannya. Anggaplah fase 0 – 7 ini adalah silent periode anak dalam mengenal dan memahami shalat. Bersabar dan berpikir positif tentang anak akan sangat membantu orang tua dalam menjalani periode ini.
Dengan pengenalan dan motivasi spiritual sebagai target pembelajaran, maka penguasaan fiqih shalat tidak menjadi ukuran komitmen anak terhadap shalat. Dalam fase ini sangat mungkin cara anak shalat masih sangat kacau, jauh dari tata cara shalat yang benar. Hal seperti ini tidak lah menjadi masalah sebagai upaya pengenalan. Pada  fase ini, sekadar mau shalat saja sudah merupakan prestasi anak yang patut diapresiasi. Pengenalan fiqih shalat yang terlalu dini, apalagi dengan pendekatan yang kaku dan instruktif, malah akan membuat anak resistan terhadap ajakan shalat


Kiprah Remaja



Remaja masjid adalah perkumpulan pemuda masjid yang melakukan aktivitas sosial  dan ibadah di lingkungan suatu masjid.

Kalau kita berbicara tentang remaja, mungkin akan terbayang dalam benak kita tentang anak-anak manusia yang berada dalam masa-masa menyenangkan, ceria, penuh canda, semangat, gejolak keingintahuan, pencarian identitas diri dan emosi.

Remaja adalah anak manusia yang sedang tumbuh selepas masa anak-anak menjelang dewasa. Dalam masa ini tubuhnya berkembang sedemikian pesat dan terjadi perubahan-perubahan dalam wujud fisik dan psikis.

Badannya tumbuh berkembang menunjukkan tanda-tanda orang dewasa, perilaku sosialnya berubah semakin menyadari keberadaan dirinya, ingin diakui, dan berkembang pemikiran maupun wawasannya secara lebih luas. Mungkin kalau kita perkirakan umur remaja berkisar antara 13 tahun sampai dengan 25 tahun. Pembatasan umur ini tidak mutlak, dan masih bisa diperdebatkan.

Masa remaja adalah saat-saat pembentukan pribadi, dimana lingkungan sangat berperan. Kalau kita perhatikan ada empat faktor lingkungan yang mempengaruhi remaja, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, teman pergaulan dan dunia luar. Lingkungan yang dibutuhkan oleh remaja adalah lingkungan yang islami, yang mendukung perkembangan imaji mereka secara positif dan menuntun mereka pada kepribadian yang benar. Lingkungan yang islami akan memberi kemudahan dalam pembinaan remaja.

Remaja Masjid Al-Istiqomah telah terbentuk, smoga roda kepengurusan dan keistiqomaahan dalam menjalankan organisasi tetap semangat.
Sukes untuk pengembangan diri dan kemajuan individu-individu yang mau sukses.



Sambut Ramadhan 2014



ALHAMDULILLAH, sebentar lagi kita akan masuk ke dalam Bulan Ramadhan 1435 Hijriyah (Juni-Juli 2014) yang penuh dengan rahmat dan kemuliaan.

Berbagai acara pun digelar untuk menyambut kedatangannya, mulai dari kampanye simpatik penyambutannya, berbagai kajian dan tausiah pembekalan Ramadhan, bakti sosial dan bazaar murah, sampai pemasangan baliho-baliho diberbagai tempat strategis.

Agar anak-anak berhasrat besar melakukan puasa, mereka harus memiliki perasaan yang sangat positif terhadap bulan Ramadhan. Kita perlu menumbuhkan perasaan –bukan sekedar memahamkan— bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan yang berlimpah kebaikan di dalamnya, bulan yang penuh kegembiraan karena setiap kebaikan akan dilipat gandakan ganjarannya. Tak ada bulan yang lebih mulia dibanding bulan Ramadhan. Karena itu, Ramadhan harus dinanti dan disambut dengan suka cita.

 Jika anak-anak sudah mempunyai perasaan yang sangat positif terhadap Ramadhan, insya Allah mereka akan berebut untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang mampu berpuasa secara penuh. Meski sebagai orangtua kita tidak boleh mengharuskan anak yang belum cukup umurnya untuk berpuasa sebagaimana orang dewasa, tetapi memacu hasrat sangat mungkin kita lakukan.

Cara yang di dapat diterapkan dalam keluarga untuk bisa memperbaiki cara mengajak anak berpuasa penuh di bulan Ramadhan.
Apa yang di lakukan kepada anak-anak sebelum Ramadhan? Secara sederhana ada dua hal, menyiapkan penyambutan bulan Ramadhan dan mengatur pelaksanaan puasa.

Selamat Datang Ramadhan

Sekitar tiga atau dua minggu sebelum Ramadhan tiba, seorang ibu bias  mulai membicarakan dengan anak-anak tentang datangnya bulan yang terindah itu. Anak-anak diajak untuk merasakan datangnya Ramadhan sebagai anugerah. Pada saat yang sama mulai berbincang-bincang dengan anak tentang apa yang bisa dilakukan untuk menyambut Ramadhan.

Intinya sederhana, bagaimana anak-anak bisa merasakan Ramadhan sebagai bulan yang istimewa dan karenanya perlu bergembira dengan kedatangannya.

Hiasi ruang tengah, tempat untuk melakukan  sahur dan buka puasa, dengan kertas warna-warni dan balon yang ditempelkan di sudut ruang atau di tengah-tengah. Sekurang-kurangnya mengubah letak meja dan kursi sehingga ada suasana baru menjelang Ramadhan. Mengecat rumah dengan cat rumah dengan warna yang disukai anak-anak, termasuk kamar. Di salah satu kamar bahkan ada tiga warna yang dipakai. Semua ini untuk menumbuhkan perasaan positif terhadap Ramadhan.


Menu juga masuk dalam daftar penyambutan. Ini bukan berhubungan dengan kemewahan, tetapi berkaitan dengan penyajian. Ketika ada rezeki yang memungkinkan, bisa saja hari pertama sahur menyajikan menu yang istimewa. Tetapi yang paling pokok adalah bagaimana anak-anak merasakan bahwa Ramadhan sangat berbeda dibanding hari-hari biasa. Sama-sama dadar telor, sangat berbeda ”rasanya” bagi anak antara dadar telor yang dibikin begitu saja dengan yang dibikin atas dasar usulan.
Penyajian menu ”istimewa” ini terutama untuk sahur pertama hingga ketiga. Setelah itu, menu akan berjalan seperti biasa.

Dalam Ramadhan  anak-anak juga perlu diajak untuk belajar berbagi. Pada saat yang sama, kita menantang mereka untuk memancangkan tekad, sampai jam berapa akan berpuasa. Ini terutama untuk anak yang belum cukup umur. Misalnya yang baru berusia 5 tahun. Tetapi kita tetap harus ingat bahwa mereka tidak boleh dipaksa puasa sehari penuh.
Mengelola Puasa

Kalau kita merasa sangat lapar, sesederhana apa pun makanan yang terhidang, akan nikmat sekali rasanya. Tapi saat mengantuk, makanan yang enak pun sulit memancing minat. Karena itu, menu saat sahur jauh lebih penting dibanding saat berbuka. Menu sahur selain menarik bagi anak, juga perlu mempertimbangkan agar tidak menghidangkan makanan yang mengundang rasa haus.
Habis sahur, anak-anak perlu dijaga agar tidak tidur. Ba’da Subuh hingga sekitar jam 11.00 pagi adalah saat-saat yang sangat penting. Kalau di waktu-waktu tersebut ada melakukan kegiatan yang menyenangkan dan secara fisik aktif, biasanya waktu berikutnya hingga saat berbuka tiba tidak ada masalah yang berarti. Tetapi kalau kita lalai sehingga mereka tertidur hingga pagi jam 09.00 misalnya, pada umumnya anak mulai tidak tahan menghadapi haus dan lapar, terutama menjelang tengah hari. Ini terutama untuk anak-anak yang berusia antara 5-8 tahun. Anak-anak yang lebih tua pun merasa sangat tidak nyaman sehingga puasa terasa sangat menyiksa jika mereka tidur antara Subuh hingga jam 09.00 atau jam 10.00. Apalagi kalau tidur mulai habis Sahur.

Awal-awal puasa, biasanya anak makan sahur dalam kondisi mengantuk, sehingga mereka cenderung ingin bersegera menyudahi acara makan untuk berangkat tidur kembali. Karena itu, usahakan agar saat sahur benar-benar menarik anak; menarik bukan karena makanan yang mewah, tetapi karena ada kehangatan yang mereka temukan. Selain itu, upaya agar makan sahur lebih menarik buat mereka adalah dengan menyediakan jajanan anak yang bergizi dan disukai anak.

Jadi jika ada rezeki, hidangan sahurlah lebih penting untuk diperhatikan. Bukan buka puasa. Sekurangnya, ada makanan yang menarik minat anak, meskipun hanya dari cara menyajikannya.
Bangunkan anak secara menyenangkan. Bangunkan agak awal agar mereka memiliki kesiapan emosi sebelum makan. Jika memungkinkan, libatkan anak-anak untuk membantu penyiapan makan sahur sebab ini lebih menggairahkan mereka. Beri mereka tugas sesuai dengan umurnya. Anak yang berusia 5 tahun bisa kita beri tugas menyiapkan sendok, misalnya.

Berkenaan dengan bermain, apa saja yang bisa dilakukan anak saat berpuasa? Dulu saya membatasi anak bermain agar tidak melakukan permainan yang banyak menguras tenaga. Saya khawatir ini menyebabkan mereka kehabisan energi sehingga tidak kuat berpuasa. Tetapi belakangan saya justru bersikap sebaliknya. Pagi hari mereka bisa melakukan aktivitas apa pun yang menarik, termasuk bermain bola, sehingga mereka tidak mengantuk dan secara fisik mereka aktif. Permainan ini bisa dilakukan sampai sekitar jam 11.00 atau 12.00.

Biasanya, jika anak-anak banyak melakukan aktivitas fisik yang menantang, selepas Dzuhur mereka sudah mengantuk. Tidur saat capek karena aktivitas fisik merupakan cara yang sangat efektif untuk memulihkan energi.

Anak-anak yang sudah berusia sekitar 10 tahun mungkin tidur sekitar 2-3 jam. Sedangkan anak-anak yang berusia di bawahnya biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Yang jelas, begitu bangun mereka insya Allah akan segar kembali sehingga bersemangat melakukan berbagai aktivitas.
Nah, sekarang saatnya memberi mereka kegiatan-kegiatan yang bersifat lunak. Meskipun mereka masih boleh berlari-lari, tetapi sebaiknya kita arahkan mereka untuk melakukan aktivitas permainan atau intelektual.

Membaca buku-buku menarik, berdiskusi, mengaji atau mengikuti kegiatan TPA/TPQ di masjid sangat pas buat mereka. Kegiatan yang dilakukan setelah mereka memperoleh istirahat yang cukup ini insya Allah membuat mereka melupakan rasa lapar. Keasyikan membuat datangnya waktu Maghrib tak terasa lama.
Wallahu a’lam bishawab.

Sebagai penutup, sekedar untuk mempertegas pembicaraan kita di awal, tidur di antara Subuh sampai menjelang siang akan membuat anak merasa sangat tidak nyaman dan cepat lelah sehingga waktu puasa terasa sangat panjang. Jika ini terjadi, sebelum Dzuhur tiba pun anak-anak sudah berteriak lapar
Diambil dari Hidayatullah 2008.


Mengajak Anak Senang dengan Al-Qur'an



Saat ini semakin semarak tpq-tpq yang berada disetiap kampung-kmpung dan perumahan perkotaan, menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran al-qur’an, berlomba dengan pengaruh gencarnya industry telivisi mempengaruhi prilaku dan akhlak anak-anak.  


Belum seimbangnya pendidikan formal terhadap muatan pelajaran agama islam menjadikan, lembaga tpq dituntut untuk menyiapkan anak-anak sebagai generasi islam yang memiliki akhlaq dan moral islami, menjadi tumpuan satu-satunya. Orang tua kebanyakan masih mengandalkan atau melepaskan terhadap pengajaran al-quran kepada para pengajar tpq, peran serta orang tua tehadap pengajaran alqur’an haus menjadi perhatiannya saat anak berada dirumah, berikut tip dan pemahaman untuk mengajak anak senang belajar al-quran:

1. Belajar MEMBACA QUR'AN idealnya dimulai pd saat anak usia 7 thn. Plg cepat 6 thn. Belajar seperti ini harus melihat konsep atau cara berpkir anak. Anak2 < 7 th secara umum, konsep berpikirnya konkrit, sedangkan huruf2 latin, dan termasuk hijaiyah itu adalah symbol/lambang abstrak. JD itu sebabnya byk anak balita kesulitan utk belajar CALISTUNG, karena memang blm sesuai dg usianya.

 
2. BERBEDA DG BELAJAR MENGHAFAL QUR'AN, yg justru baik dimulai sedini mungkin, sejak bayi pun anak boleh diajarkan hafalan QUR'AN. Imam Syafii sudah hafidz usia 6 tahun. Agar tk jd beban dlm menghafal qur'an, hindari penuh tekanan dlm menghafalnya. Buat tantangan2 (chalenging) sesuai kemampuan anak dan orangtua sendiri. JIKA HAFAL 5 surat misalnya dpt hadiah 2 buku. 10 surat 5 buku. 1 Juz dpt sepeda. 10 Juz dpt umroh.


 3. Sesering mungkin perdengarkan berulang-ulang murottal qur'an, karena suara yg diulang2 ini akan otomatis masuk ke dlm alam bawah sadar anak, sebagaimana anak tanpa kta ajarkan dpt dg mudah mengingat dg baim syair puluhan lagu.


4. Orangtua yang ingin anaknya hafal qur'an harus punya keyakinan dan tekad yg kuat. Bahw hafal qur'an itu utk kepentingan anaknya sendiri, bkn keepentingan orangtuanya. Bukan utk dibangga2kan orangtuanya, tp utk anak mencintai qur'an itu sendiri, agar hidup anak terwarnai qur'an itu sendiri.


Karena itu orangtua jg harus istiqomah dan rajin utk melakukan MUROJA'AH dg anak, membuat anak menyetor hafalannya tanpa harus merasa dtest dg misalnya melafalkan bersama2 setiap hari berulang yg menjadi hafalan anak, meski orangtua sendiri menggunakan qur'an langsung dibaca sementara anaknya melafalkan lisan.



5. Harus dsadari dr awal, jika anak sekadar bisa HAFAL DAN MEMBACA, hidup anak blum tentu ter-drive qur'an itu sendiri. Hafidz qur'an di Indonesia sgt berbeda hafidz qur'an di palestin misalnya, karena umumnya mereka MEMAKNAI DAN MENGERTI APA yg mereka ucapkan, apa yg mereka hafalkan, karena itu bahasa mereka. Dan ini dpt mempengaruh perilku anak2 dan org dewasa yg hafidz qur'an.



Tp, ini blom tentu terjadi di Indonesia. karena itu jika orangtua ingin anaknya hafal qur'an, idealnya dsertai dg program tambahan, pelajaran MEMAKNAI QUR'AAN, anak diajarkan utk mengerti bahasa arab, atau setidak2nya dceritakan makna setiap ayat yg mereka hafalkn, sedkit demi sedikit



6. Sebenarnya, mengajak anak mencintai Qur'an tidak harus menunggu anak bisa MEMBACA QUR'AN. Jauh sebelum anak bisa MEMBACA HURUF-HURUF DI ALQUR'AN, sebaiknya anak diajak dulu untuk mencintai Qur'an. Anak bisa diajak mencintai qur'an dengan cara mengenalkan isi Qur'an pada anak pada anak terlebih dahulu. Ini adalah ikhtiar untuk anak selalu 'mau' untuk tertarik dengan Al-Qur'an. Bisa membaca Qur'an sejak dini bukanlah jaminan anak setelah dewasa mau mengkaji isi Qur'an. Bahkan, memaksa anak bisa membaca Qur'an bukan pada waktunya justru kontraproduktif dengan tujuan mencintai Qur'an itu sendiri. 



Itu sebabnya, dalam hadits yang mahsyur tentang mengajarkan sholat pada anak misalnya, Rasulullah mencontohkannya mulai sejak 7 tahun. Mengapa tidak dibawahnya? Mengapa tidak usia 4 thn? Apalagi usia 3 tahun? Karena memang 'konsep berpikir' anak 7 tahun tentu lebih matang daripada anak2 dibawahnya secara umum. 



Sebuah Survei pada ratusan orang, banyak dari mereka bisa membaca Qur'an sejak dini, tapi hanya segelintir dari mereka yang dewasanya kemudian mau 'tertarik' mengkaji isi Qur'an. Sebab mengkaji isi Qur'an adalah motivasi, sedangkan membaca Qur'an adalah kompetensi. 



Di Al-Qur'an, banyak sekali cerita, kisah, yang dapat diterangkan pada anak dan jika disampaikan dengan bahasa anak-anak dapat membuat anak justru betah dengan Qur'an. Ada cerita binatang, ada cerita Nabi-nabi, ada cerita orang-orang shalih. Al-Qur'an adalah sumber cerita yang kaya untuk anak-anak kita. Seru, sedih, gembira, ada di dalam Al-Qur'an.

Wallahu’alam.



Kebanggaan Ayah


Bakri diundang ke sekolah anaknya untuk menghadiri peringatan 'Hari Ayah'. Sebenarnya, dia sangat enggan untuk datang karena merasa sudah tua dan memiliki empat anak. 

Bahkan, anak tertuanya sudah masuk kuliah. Namun, istri dan anaknya yang keempat mendesaknya untuk datang ke sekolah.

Setiba di sekolah, para ayah kemudian dikumpulkan di sebuah ruangan untuk menyaksikan penampilan anak-anak mereka menunjukkan kemampuannya. Ada yang menyanyi, menari, menulis, baca puisi, pidato dalam bahasa asing, dan lainnya. 

Setiap selesai penampilan, para ayah ini bertepuk tangan sebagai tanda kegembiraan atas kemampuan anaknya. Bakri hanya membatin bahwa dia juga demikian, saat anak pertamanya melakukan hal itu.

Karenanya, ketika tiba giliran anaknya yang bernama Umar, Bakri tampak biasa-biasa saja. Ia menduga, Umar akan menampilkan hal serupa dengan penampilan kawan-kawannya. Namun, dugaannya meleset. 

Saat ibu guru sekolah menanyakan kepada Umar akan penampilannya, Umar menjawab bahwa dia ingin tampil bersama Ustaz Amir, guru ekstrakurikuler membaca Alquran di sekolah itu.

Umar mengatakan, ia akan membaca Surah al-Kahfi. Sadar akan jumlahnya banyak (110 ayat), ia meminta Ustaz Amir memilihkan ayat yang akan dibacanya. Saat diminta membaca ayat 1-5, dengan lancar Umar membaca. Dan yang luar biasa lagi, ternyata bacaan Umar sangat indah. 

Ia meniru Muhammad Taha al-Junaid, seorang qari cilik yang terkenal dan sering didengar suaranya oleh Umar. Bacaannya begitu tenang dan penuh kedamaian. Kemudian, Ustaz Amir memintanya untuk membaca ayat ke-60. Dan dengan lancar, Umar membaca dengan suara yang juga sangat merdu serta menenangkan jiwa.

Kini, semua mata para ayah tertuju pada Umar. Mereka semua sangat kagum akan kemampuan Umar. Mata para ayah tampak berkaca-kaca. Seolah mereka penuh harap anak-anak mereka bisa seperti Umar. Demikian pula dengan Bakri, ayah Umar. Ia yang tadinya tak sepenuh hati datang ke sekolah, kini tampak bersemangat.

Belum selesai, Umar lagi-lagi diminta Ustaz Amir untuk membacakan ayat 107-110 Surah al-Kahfi sebagai penutup penampilannya. Maka, Umar pun membacanya tanpa kesalahan. Begitu selesai, Bakri langsung bangkit dan memeluk Umar. Ia begitu bangga dengan buah hatinya. Para ayah yang menyaksikan hal itu pun tampak terharu dengan derai air mata yang membasahi pipi.

Menyudahi suasana haru itu, ibu guru bertanya kepada Umar tentang alasan dia membaca Alquran untuk ayahnya. Umar menjawab, "Ustaz Amir pernah mengajarkan kepadaku agar rajin membaca Alquran. Dan kalau hafal, orang tuanya akan mulia di akhirat. Aku ingin ayah dan ibuku mendapat kemuliaan seperti itu," jawabnya. Semua yang hadir pun memuji kebesaran Allah.

Bakri kemudian meminta izin untuk memberikan sambutan. "Kita menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik agar bisa mengejar kemajuan dunia. Aku juga demikian. Dengan ambisi duniawi, aku menyekolahkan Umar dengan harapan ia akan memiliki masa depan gemilang. Hari ini aku sadar. Anakku justru telah membuat masa depanku gemilang dengan mempelajari dan menghafal Alquran. Terima kasih, anakku. Maafkan ayah yang lupa mendidikmu untuk mempelajari Alquran." 

Sumber : Republika 




Pendidikan Anak dalam Islam



Pendidikan anak
 adalah perkara yang sangat penting di dalam Islam. Pendidikan anak dalam islam sangat diutamakan hal ini bisa kita lihat di dalam Al-Quran kita dapati bagaimana Allah menceritakan petuah-petuah Luqman yang merupakan bentuk pendidikan bagi anak-anaknya. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Setiap di antara kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban”


Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak
Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

Oleh karena itu, di dalam Al-Quran pula Allah kisahkan nasehat Luqman kepada anaknya. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

Termasuk aqidah yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini adalah tentang di mana Allah berada. Ini sangat penting, karena banyak kaum muslimin yang salah dalam perkara ini. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ada di hati kita, dan beragam pendapat lainnya. Padahal dalil-dalil menunjukkan bahwa Allah itu berada di atas arsy, yaitu di atas langit. Adapun dari hadits,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang budak wanita, “Dimana Allah?”. Budak tersebut menjawab, “Allah di langit”. (HR. Muslim dan Abu Daud).

Mengajari Anak untuk Melaksanakan Ibadah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ajarilah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika mereka berusia sepuluh tahun (bila tidak mau shalat-pen)” (Shahih. Dengan melatih mereka dari dini, insya Allah ketika dewasa, mereka sudah terbiasa dengan ibadah-ibadah tersebut.

Mengajarkan Al-Quran, Hadits serta Doa dan Dzikir yang Ringan kepada Anak-anak
Dimulai dengan surat Al-Fathihah dan surat-surat yang pendek serta doa tahiyat untuk shalat. Dan menyediakan guru khusus bagi mereka yang mengajari tajwid, menghapal Al-Quran serta hadits. Begitu pula dengan doa dan dzikir sehari-hari.  

Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia
Tanamkan kepada mereka akhlaq-akhlaq mulia seperti berkata dan bersikap jujur, berbakti kepada orang tua, dermawan, menghormati yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda, serta beragam akhlaq lainnya.

Melarang Anak dari Berbagai Perbuatan yang Diharamkan
Termasuk ke dalam permasalahan ini adalah musik dan gambar makhluk bernyawa. Banyak orangtua dan guru yang tidak mengetahui keharaman dua perkara ini, sehingga mereka membiarkan anak-anak bermain-main dengannya. Bahkan lebih dari itu –kita berlindung kepada Allah-, sebagian mereka menjadikan dua perkara ini sebagai metode pembelajaran bagi anak, dan memuji-mujinya sebagai cara belajar yang baik!
“Sungguh akan ada dari umatku yang menghalalkan zina, sutra, khamr dan al-ma’azif (alat-alat musik)”. (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Abu Daud).

Dan al-ma’azif adalah setiap alat yang bernada dan bersuara teratur seperti kecapi, seruling, drum, gendang, rebana dan yang lainnya. Adapun tentang gambar, guru terbaik umat ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para tukang gambar.” Oleh karena itu hendaknya kita melarang anak-anak kita dari menggambar mahkluk hidup. Tanamkan pula kepada mereka kebencian kepada orang-orang kafir. Tanamkan bahwa kaum muslimin akan membebaskan Al-Quds ketika mereka mau kembali mempelajari Islam dan berjihad di jalan Allah. Mereka akan ditolong dengan seizin Allah.

Dan tidak boleh menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita bohong, horor serta menakuti mereka dengan gelap.
Membiasakan Anak dengan Pakaian yang Syar’i
Anak laki-laki menggunakan pakaian laki-laki dan anak perempuan menggunakan pakaian perempuan. Jauhkan anak-anak dari model-model pakaian barat yang tidak syar’i, bahkan ketat dan menunjukkan aurat.

Tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang meniru sebuah kaum, maka dia termasuk mereka.” Untuk anak-anak perempuan, biasakanlah agar mereka mengenakan kerudung penutup kepala sehingga ketika dewasa mereka akan mudah untuk mengenakan jilbab yang syar’i.

Demikianlah beberapa tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak. Hendaknya para orang tua dan pendidik bisa merealisasikannya dalam pendidikan mereka terhadap anak-anak. Dan hendaknya pula mereka ingat, untuk selalu bersabar, menasehati putra-putri Islam dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Ditulis Oleh : muhamad rial



Back to top