.
Diberdayakan oleh Blogger.

DIENUL ISLAM IDENTITAS SEBAGAI MUSLIM

Suatu ketika selagi berda’wah di Australia, penulis ditanya oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil program paska-sarjana, “Ustadz, mana yang lebih baik antara seorang ‘muslim tapi’ atau orang ‘kafir yang baik’?” Pertanyaan ini sungguh mencerminkan kebingungan penanya yang barangkali juga mewakili kebingungan banyak kaum muslimin dewasa ini. 
Yang dimaksud dengan seorang ‘muslim tapi’ ialah seorang muslim tapi banyak berbuat dosa. Muslim, tapi korupsi. Muslim, tapi minum khamr. Muslim, tapi berzina. Muslimah, tapi tidak berjilbab. Sedangkan yang dimaksud dengan seorang ‘kafir yang baik’ ialah seorang non-muslim tapi disiplin, rajin bekerja, tertib, teratur, jujur dan lain sebagainya.
Maka penulis menjawab dengan mengatakan bahwa keduanya sama-sama buruk. Si ‘muslim tapi’ buruk karena dia setiap hari berdusta kepada Allah سبحانه و تعالى . Dia mengaku beriman tetapi tidak sanggup menghadapi berbagai ujian di dunia. Ia tidak bersungguh-sungguh dalam menjaga identitasnya sebagai bahagian dari kaum beriman.
Padahal Allah سبحانه و تعالى telah memperingatkan setiap orang yang mengaku beriman bahwa dirinya akan diuji agar tersingkap siapa yang jujur dan benar dalam pengakuan berimannya dan siapa yang berdusta alias berbasa-basi dalam pengakuannya.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَوَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)
Sedangkan si ‘kafir yang baik’ juga buruk karena segala kebaikan yang dia perlihatkan hanya bermanfaat sebatas hidupnya di dunia. Sedangkan segala kebaikan yang dia perlihatkan tersebut tidak akan menghasilkan akibat baik apapun bagi kehidupannya di akhirat kelak. Sehingga Allah سبحانه و تعالى gambarkan bagaimana amal perbuatan orang-orang yang kafir terhadap hari Akhir menjadi seperti debu berterbangan alias tidak ada nilainya sama sekali.
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan [25] : 23)
Lalu apa yang mestinya dilakukan? Berda’wah. Ajaklah manusia agar menuju ke Allah سبحانه و تعالى . Angkatlah derajat si ‘muslim tapi’ agar meninggalkan posisi buruk status quo-nya. Doronglah dia agar menjadi seorang muslim-mukmin sejati. Tidak lagi gemar melakukan dosa. Sedangkan da’wah kepada si ‘kafir yang baik’ ialah dengan memperkenalkan kepadanya jalan hidup yang benar, yaitudienullah Al-Islam. 
Dan pada puncaknya, ajaklah dia agar memeluk Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh teladan utama kita Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Hal ini dilakukan agar segala kebaikan yang telah ia lakukan mempunyai efek dan nilai yang jauh sehingga terbawa ke alam berikutnya yaitu kehidupan akhirat. Sebagaimana Allah سبحانه و تعالى nyatakan di dalam ayat berikut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُحَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan (di dunia) yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16] : 97)
Di era penuh fitnah seperti sekarang banyak muslim yang bingung. Mereka melihat di satu sisi kemajuan atau kebaikan material umumnya melekat pada kaum kafir. Sedangkan di sisi lain segala hal yang berkaitan dengan keterbelakangan atau keburukan selalu melekat pada mereka yang disebut kaum muslimin. Akhirnya kebingungan itu melahirkan kian banyak muslim yang tidak lagi peduli dengan nikmat yang semestinya paling berharga dalam hidupnya, yaitu iman dan Islam.
Di samping itu mulailah kepercayaannya akan Islam sebagai identitas orisinalnya memudar. Mulailah mereka mencari-cari identitas lain yang mereka yakini lebih dapat mengangkat leverage (status) kemuliaan dirinya di hadapan manusia banyak. Mereka tidak lagi bangga mengaku sebagai muslim.
 Ada yang lebih bangga menjadi seorang rasionalis, spiritualis, moderat, radikalis, fundamentalis, demokrat, nasionalis, humanis, pluralis, sekularis, modernis, progressif, westernis, orientalis, liberalis atau universalis. Padahal secara gamblang Allah سبحانه و تعالى menyebutkan bahwa identitas orang beriman adalah menjadi kaum muslimin. Inilah sebutan resmi langsung dari Allah سبحانه و تعالى terhadap orang-orang yang beriman sepanjang zaman.
هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَأَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا
“Dia (Allah سبحانه و تعالى ) telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini.” (QS. Al-Hajj [22] : 78)
Di dalam buku Al-Islam, Sa’id Hawwa menulis:
Seandainya Islam undur dari panggung kehidupan, niscaya segala sesuatu yang ada di bumi ini tidak ada yang berada pada tempatnya dan semuanya dalam keadaan yang tidak tetap. Norma-norma akan menjadi tidak karuan dan nilai-nilai menjadi jungkir balik. Yang kemarin diharamkan, hari ini akan menjadi barang halal. Begitu pula sebaliknya. Apa yang ditetapkan hari ini, esoknya dibatalkan. 
Dan apa yang ditetapkan esok harinya, lusanya tidak akan berlaku lagi. Hawa nafsu manusia mencoba mengungkap hakikat dirinya dengan teori-teori yang paling bertentangan dan berlawanan. Dan bersama dengan teori-teori tersebut manusia semakin tidak tahu tentang hakikat dirinya. Tidak tahu mana jalan masuk dan mana jalan keluar. Ia berputar-putar dalam lingkaran syetan. Menggelinding tak tentu arah. Meski dirinya membayangkan bahwa ia tahu apa yang ia harus lakukan, namun hakikatnya ia tidak tahu apa yang ia harus lakukan, ia tidak tahu mengapa ia melakukan dan mengapa ia menghendaki? Setiap generasi ingin mengungkap hakikat dirinya dalam bentuk yang berbeda dengan orang lain. 
Di sana tidak ada dasar yang dijadikan rujukan manusia atau diakuinya. Maka kepada seseorang tidak dapat ditegakkan hujjah. Manusia tidak tunduk kepada satu pendapat. Meskipun seseorang atau penguasa menginginkan seluruh manusia kembali kepada satu sistem. Tetapi mereka pasti akan membangkangnya. Merdekakah manusia?
Ketika itulah manusia telah menjadi binatang-binatang di hutan belantara. Malah, barangkali keadaannya lebih buruk daripada binatang-binatang itu. Sebab manusia telah mengeksploitasi kemampuan dan fasilitas ilmiahnya di jalan yang sama sekali menyimpang. Maka binatang paling buruk manapun tidak akan mampu melakukan lebih sedikit saja darinya beribu-ribu kali.
Gambaran tersebut adalah kenyataan manusia sekarang. Dan kenyataan ini akan semakin memburuk. Bukankah jika semakin banyak aparat keamanan, semakin meningkat angka kriminalitas? Bukankah sekarang ini muncul generasi banci dan liar? Bukankah dimana-mana telah merajalela kebebasan hubungan seks? Bukankah angka orang yang terkena penyakit kelainan seks semakin meningkat sampai di beberapa negara tertentu telah mencapai 70% laki-laki yang kena penyakit tersebut? Bukankah kita melihat teori-teori yang diajukan setiap hari malah menjadikan suatu masalah semakin kacau dan bertentangan? Apa artinya semua itu?
Sekali lagi, undurnya Islam dari panggung dunia ini akan menjadikan segala sesuatu berada bukan pada tempatnya. Karena Islam adalah satu-satunya prinsip Rabbani yang benar dan lurus, jauh dari penyimpangan dan kesalahan. Islam-lah satu-satunya yang dapat menyempurnakan kemanusiaan di bawah naungannya. Tanpa Islam, segala sesuatu yang ada dalam manusia dan untuk manusia akan musnah.” (hal. 1, 2 dan 3 jilid 03)
***
Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa hanya dan hanya dengan menempuh jalan hidup Islam ini sajalah umat manusia bakal hidup dalam keadilan, selamat, damai dan bersatu, Jika mereka mencari jalan yang lainnya –baik dicampurkan bersama Islam atau tidak- maka niscaya berantakanlah mereka:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُوَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْسَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“… dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam [6] : 153)
Kemudian Allah سبحانه و تعالى telah menegaskan secara pasti di dalam Al-Qur’an, bahwa Islam merupakan Din bagi seluruh Nabi-nabi dan Rasul-rasul sejak dari Adam as sampai dengan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم –sebagai pembawa risalah samawi (langit) yang terakhir. Dalam hubungan ini dapat diperhatikan beberapa kutipan dari al-Qur’an seperti di bawah ini.
Berkenaan dengan NuhIbrahim dan Ismail alaihimus salam di dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“…aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya).”(QS. Yunus [10] : 72)
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang muslim (yang tunduk patuh) kepada Engkau.” (QS. Al-Baqarah [2] : 128)
Nabiyullah Ya’qub alaihimas salam mewasiatkan kepada anak-anaknya sebagaimana tersebut di dalam al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim (memeluk agama Islam).” (QS. Al-Baqarah [2] : 132)
Sedangkan mengenai Taurat di dalam al-Qur’an diterangkan,
يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا
“…yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang Islam (menyerahkan diri kepada Allah)…” (QS. Al-Maidah [5] : 44)
Dan mengenai Nabi Musa alaihis salam Al-Qur’an menerangkan,
فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
“Berkata Musa, ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar muslimin (orang yang berserah diri)’.” (QS. Yunus [10] : 84)
Tentang Yusuf alaihimus salam al-Qur’an menerangkan,
تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf [12] : 101)
Dan berkenaan dengan imannya tukang-tukang sihir Fir’aun kepada Musa alaihis salam al-Qur’an menceritakan,
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan sebagai muslimin (berserah diri kepada-Mu).” (QS. Al-A’raaf [7] : 126)
Sedangkan tentang kaum Hawariyyin —pembela Nabi Isa alaihis salam— disebutkan di dalam al-Qur’an,
ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah muslimin (orang-orang yang berserah diri).” (QS. Ali-Imran [3] : 52)
Ratu Saba’ pernah menyatakan keislamannya sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an,
وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Aku Islam (berserah diri bersama Sulaiman alaihis salam) kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. An-Naml [27] : 44)
Sedangkan berkenaan dengan do’a seorang laki-laki yang sholeh, al-Qur’an menyebutkan,
وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk muslim (orang-orang yang berserah diri).” (QS. Al-Ahqaf [46] : 15)
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda, “Para Nabi adalah satu ayah (Adam ‘alaihis salam), ibu mereka berbeda-beda namun agama mereka satu.” (HR. Muslim 4362)
Dan Allah سبحانه و تعالى berfirman:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًاوَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَىأَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Dia (Allah سبحانه و تعالى ) telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa alaihimus salam yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura [26] : 13)
Islam yang diserukan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dapat diketahui dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang telah diakui ke-shahihannya oleh para ulama hadits. Dan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم ini adalah merupakan hidayah yang sempurna untuk seluruh ummat manusia. 
Allah سبحانه و تعالى menurunkan Islam ini secara menyeluruh dan sempurna, sehingga tidak ada satu persoalanpun yang menyangkut kehidupan manusia yang tidak diatur oleh Islam, baik yang berkait dengan hukum —seperti hukum mubah, haram, makruh, sunnah, wajib dan fardhu— ataupun yang menyangkut masalah aqidah, ibadah, politik, ekonomi, peperangan, perdamaian, perundang-undangan dan semua konsep hidup manusia. Sebagai mensifati al-Qur’an, Allah سبحانه و تعالى berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An-Nahl [16] : 89)
وَتَفْصِيلًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“…sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu,” (QS. Al-A’raaf [7] : 145)
Akan halnya sesuatu yang belum dijelaskan secara gamblang dan rinci dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dapt diketahui dengan jalan pengambilan hukum (istinbath) oleh para mujtahid ummat Islam.
Al-Qur’anul Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah telah menjelaskan semua persoalan yang berkait dengan aqidah, ibadah, keuangan, sosial-kemasyarakatan, perang dan damai, perundang-undangan dan kehakiman, ilmu, pendidikan dan kebudayaan, hukum dan pemerintahan. Para ahli fiqih memformulasikan semua persoalan yang dibahas oleh Islam menjadi persoalan aqidahibadahakhlaq,muamalah dan uqubah (sanksi hukum).
Termasuk ke dalam masalah aqidah adalah masalah hukum dan pemerintahan, dalam masalah akhlaq adalah masalah tatakrama, dan masalah ibadat adalah shalat, zakat, haji dan jihad, dalam masalah muamalah adalah transaksi keuangan, nikah dan segala persoalannya, soa-soal konflik, amanah dan harta peninggalan, sedangkan yang termasuk ke dalam masalah uqubah ialah qishash, hukuman bagi si pencuri, pezina, penuduh zina dan murtad.
Allah سبحانه و تعالى membebani manusia agar Islam ditegakkan di muka bumi sebagai langkah untuk menuju kehidupan ukhrawi. Hanya saja tabiat manusia sendiri cenderung tidak menyukai beban yang diamanahkan kepadanya yang dapat membatasi hawa nafsu syahwat dan kesenanagan serta kebebasannya, meskipun hal itu untuk kebaikannya. 
Oleh itu Allah سبحانه و تعالى mewajibkan para pembela kebenaran yang beriman kepada Allah سبحانه و تعالى dan komitmen terhadap kebenaran untuk membimbing kemanusiaan, supaya tunduk kepada kekuasaan Allah سبحانه و تعالى . Tugas ini dilaksanakan dengan cara menegakkan ad-da’wah al-Islamiyyah, amar ma’ruf nahyi munkar serta al-jihad fii sabilillah.
Menegakkan ad-da’wah al-Islamiyyah, amar ma’ruf nahyi munkar bertujuan agar Islam betul-betul tegak di tengah-tengah masyarakat Islam. Sedangkan jihad dilakukan bertujuan untuk melindungi keberlangsungan ad-da’wah al-Islamiyyah serta amar ma’ruf nahyi munkar dan untuk menegakkan kekuasaan syari’at Allah سبحانه و تعالى di seluruh dunia.
Dengan demikian Islam dapat disimpulkan menjadi:
  1. Aqidah sebagai fondasi; yang tercermin dengan syahadatain dan rukun iman
  2. Ibadah sebagai syiar-syiar ritual-seremonial peribadatan; yang tercermin dengan shalat, zakat, puasa dan haji, juga disebut rukun Islam
  3. Bangunan (sistem) yang tegak di atas rukun-rukun tersebut yang tercermin dengan seluruh sistem hidup Islam. Mencakup sistem politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya, pendidikan, kemiliteran, akhlaq dan lain-lain.
  4. Tiang-tiang penegak sebagai cara menegakkan sekaligus melindungi Islam yang tercermin dengan ad-da’wah al-Islamiyyah, amar ma’ruf nahyi munkar serta al-jihad fii sabilillah. Tiang-tiang penegak ini bersifat basyari (upaya manusiawi), bukan tiang penegak yang bersifat rabbani, seperti sanksi fitriah, sanksi paksaan ilahiah di dunia, dan balasan surga-neraka di akhirat.
Sesudah itu semua, masih perlukah kita melirik dien (way of life, falsafah hidup, pedoman hidup, sistem hidup) selain Al-Islam? Masih perlukah kita mencari-cari identitas tambahan —baik dicampurkan bersama identitas sebagai muslim maupun berdiri sendiri— selain identitas yang Allah سبحانه و تعالى langsung sematkan pada diri kita, yaitu sebagai muslimin?
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah kaum muslimin (orang-orang yang berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى )’.” (QS. Ali-Imran [3] : 64)
-Ihsan Tanjung-

Istri Sultan HB Berkerudung Sempurna

Istiqom - Pengkaji budaya Yogyakarta, Salim A Fillah mengatakan wanita Keraton dulu mengenakan hijab sempurna. Namun, karena kekalahan Pangeran Diponegoro dari penjajah Belanda, Islam tidak lagi menjadi asas dalam kehidupan keraton sebagaimana Sultan Hamengkubowono I dulu.
“Kurikulum untuk pengajaran para pangeran diganti Belanda menjadi kurikulum yang sangat jauh padahal sebelumnya tidak ada pangeran yang tidak fasih bahasa Arab, mengajarkan Qur’an, hadits dan jihad langsung dihancurkan Belanda," terangnya dalam acara seminar akbar Islam dan Nusantara yang diadakan oleh Aliansi Pemuda Islam Indonesia di Aula Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Centre, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (27/06/2015).
Menurutnya, ulama, santri, penghulu, khatib yang berpihak pada Diponegoro disingkirkan oleh Belanda dari keraton. Mereka dituduh lebih banyak memberikan kerusakan daripada kebaikan.
Padahal menurut Duta Sahabat Al-Aqsha ini, kehidupan Islam sudah diasaskan Sultan Hamengkubowono I, bahkan dari Sultan Hamengkubuwono I sampai Sultan Hamengkubowono IV wanita keraton sudah berhijab sempurna.
“Hamengkubowono I sampai Hamengkubowono IV wanita keraton itu berhijab sempurna. Ada dalam Babad Diponegoro”, papar penulis buku Lapis-Lapis Keberkahan itu.
Bukti lainnya juga terdapat dalam lukisan Kedung Kebo dimana istri dari Sultan Hamengkubuwono V memakai kerudung.
“Dalam lukisan kedung kebo, menggambarkan Ratu Kencono, istri HB V memakai kerudung yang sangat jelas”, ungkap Salim.
"Kita mengalami suatu pergeseran yang luar biasa, ketika sekarang disebut Jawa maka tidak bisa lagi disebut 100 persen Islam," sambungnya. 
Seminar Akbar Islam dan Nusantara merupakan seminar yang diadakan oleh Aliansi Pemuda Islam Indonesia (APII) dan didukung oleh AQL Islamic Centre, Young Islamic Leader (YI-Lead), Qur’anic Generation (Q-Gen), Komunitas Rajin Shalat dan Omah Peradaban. Selain Salim Fillah, Kandidat Doktor Sejarah Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bakhtiar dan Ketua Dai dan Ulama se-ASEAN, Zaytun Rasmin, M.A., juga mengisi acara ini.
Seminar yang sama akan diadakan pada Ahad tanggal 05 Juli 2015 di lokasi yang sama dengan pembicara Guru Besar Universitas Padjajaran Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, Ketua Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia, Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, M.Phil., dan Pengkaji Budaya Jawa Susiyanto M.P.I.

Sumber :Jurnalislam.com

Sudut Pandang Peradaban Islam

Istiqomah - Saat ini tolok ukur pada zaman modern lebih ditentukan seberapa besar...tingkat kecerdasan berfikr, seberapa besar tingkat kesejahteraan , dan kualitas hidup manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, secara lebih 

spesifik lagi bisa dikatakan yg menentukan tinggi peradaban adalah terpenuhinya kebutuhan seperti makan sandang ,pendidikan,kesehatan serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupanya.

Dari beberapa  contoh diatas islam memandang lebih luas lagi,bahwa tingkat peradaban ,ditentukan oleh tingkat cara berfikir manuasia,tingkat kesejahteraaanya,tingkat  kualitas hidupnya,serta tingkat ketaqwaanya.

Tingkat ketagwaan sangat  ditentukan oleh dua komponen yaitu otak dan hati,kedua komponen ini harus berjalan secra seimbang,otak berfikir dan hati yang akan mengimplementasiakn apa yang dihasilkan oleh otak,maka hasil yang didapat adalah kesejahteraan yg “bernilai”(berkualitas tinggi).ciri-ciri hasil yang mensejahterakan sekaligus bernilai adalah hasil tersebut menghasilkan sesuatu yang baru,yang bermanfaat,bagi kesejahteraan umat manusia...dalam  islam kita menyebutnya rahmatan lil ‘alamin.

Jika cara berpikir yang tinggi  tanpa dilandasi tingkat ketagwaan maka tingkat kesejahteraan itu hanya semu,berapa banyak para milyader,para pengusaha sukses bahkan para artis2 yang namanya melambung lebih senang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.kemajuan technologi sebagai alat menciptakan kerusakan di bumi..seperti bom atom,nuklir dsb.

Untuk mendapatkan manusia manuasia yang bisa menghasilkan rahmatan lil alamin,maka pada era ini banyak manusia menciptakan sistem-sistem.banyak teori-teori yang diciptakan untuk mencapai hal tsb.
Kemudian sistem-sistem ditawarkan kepada masyarakat,supaya diterima menjadi kesepakatan untuk mencapai tujuan rahmat bagi seluruh alam,

Islam sebagai agama yang terakhir kali diturunkan oleh Penciptanya, yang mempunyai pegangan  alquran dan hadist maupun sirah nabi,dan sirah sahabat,sebenarnya sudah memiliki sistem yang lengkap dan sempurna
pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi ugama untuk kamu(QS.05:03)

sebagian orang menawarkan system untuk mendapatkan kesejahteraan,ada demokrasi,ada sosialis,dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.,semuanya mempunyai kelemahan tapi apa yang digambarkan rosulullah sangat gamblang,dan banyak ibroh yang bisa diterapkan pada era modern ni.

Inti dari apa yang menjadi tujuan hidup bermasyarakt adalah kesejahteraan kolektif,karena manusia tidak mungkin bisa hidup sejahtera tanpa orang lain dan hidup sejahtera tanpabersanding dengan orang lain.oleh karena itu tujuan itu harus kita capai dengan kolektif pula,tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Jika tahap ini tidak dilalui maka dalam perjalanan menuju kesejahteraan itu pastilah akan terjadi tabrakan-tabrakan persepsi yang bisa menimbulkan mandeknya proses menuju kesejahteraan tersebut.bagaimana konflik terjadi antara pro demokrasi dan sosialis yang pada masanya bisa menimbulkan perang dunia.
Dengan itulah untuk mewujudkan kesehteraan dunia maka yang dibangun pertama kali adalah kapasitas berpikir manusia disetiap  lini.dari diri sendiri,keluarga,masyarakat,negara bahkan dunia.karena dalam hal ini k ita sebagai seorang muslim  maka system untuk membangun kapasitas itu akan berlandaskan islam tp tidak berarti bahwa seluruh manusia di dunia ini atau dilingkungan kita harus semua islam,islam sangat menghargai perbedaan,selama kaum itu tidak mengganggu islam maka tidak wajib kita perangi.

Kapasitas yang ingin kita bangun dari setiap manusia adalah kapasitas yang masing- masing individu mampu menciptakan manfaat bagi dirinya dan orang lain baik islam maupun bukan..

Jika kapasitas setiap manusia sudah terbentuk maka tahap selanjutnya adalah menyamakan persepsi kolektif,persepsi kolektip tidak akan terbentuk jika kapasitas berfikir manusia masih terjadi ketimpangan yang besar dari segi kualitas dan kuantitas...sebagai contoh orang sosialis tidak mungkin mau mengikuti cara berfikiir orang-orang barat yang nota bene berorientasi demokrasi.

Tahap berikutnya adalah kerja keras .jika kapasitas memadai dan kesepakatan terjadi maka kerja keras adalah wujud nyata untuk menuju kesejahteraan bersama.pada tahap ini bisa dikatakan tahap dakwah bil hikmah.

Tahap yang terakhir adalah membentuk peradaban,kesejahteraan yang dicapai secara bersama-sama akan diberikan nuansa nilai moral dalam hal ini nilai-nilai islam.segala bentuk budaya yang berkembang di dunia yang sejahtera itu di berikan adab(aturan)yang sejalan dengan islam atau tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Jika tahap ini sudah terlampaui maka yang di dapat adalah ‘”kemenangan”, pada hari itu manusia diseluruh dunia akan “berduyun-duyun” masuk ke dalam islam tanpa paksaan karena melihat islam sebagai rahmat seluruh alam.
1. apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan (semasa Engkau Wahai Muhammad berjaya Menguasai negeri Makkah), -

2. dan Engkau melihat manusia masuk Dalam ugama Allah beramai-ramai, -
3. maka Ucapkanlah tasbih Dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepadaNya, Sesungguhnya Dia amat menerima taubat.QS.110:1-3

Wallahu a’lam bishowab

Jilbab Simbil Nilai-nilai Kesopanan dan Pembawaan Diri

Istiqomah – Michigan. Jilbab oleh masyarakat barat dipandang sebagai simbol kolot atau konservatif. Namun, Komunitas Muslim Michigan punya pandangan lain.

Pakar ilmu politik yang juga mantan blogger khusus fesyen jilbab, Imaan Ali, menilai mengenakan jilbab bukan persoalan konservatif atau tidak. Tapi bagaimana seorang perempuan mengedepankan nilai-nilai kesopanan dan pembawaan diri.

Pakar Timur Tengah Mohammad Alhawry berpendapat dalam Alquran dijelaskan Jilbab merupakan cara yang memungkinkan individu, utamanya perempuan, untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat serta mempertahankan pemisahan ruang publik dan pribadi.

“Anda lihat sekarang di jaringan sosial seperti Facebook dan tempat-tempat lain seolah tidak ada pemisahan,” katanya. Situasi itu memunculkan masalah dengan diri sendiri, sahabat, dan rekan kerja karena ketidaktaatan terhadap pemisahan kehidupan pribadi dan publik.

Selama ribuan tahun, jilbab telah dikreasikan dalam bentuk pakaian yang disesuaikan dengan tren tanpa perlu melanggar aturan yang ditetapkan Alquran. Ali misalnya, ia menggunakan jilbab semenjak usia 20 tahun. Diusianya yang terbilang muda, ia tergolong penggila fesyen.

Dengan pengetahuan yang luas soal fesyen, Ali tak mau ketinggalan tren tanpa harus menanggalkan keyakinannya untuk mengenakan jilbab. “Anda dapat memodifikasi beragam jilbab dan membuat tren atas apa yang anda kenakan. Gunakan imajinasi anda,” ungkapnya.

Ali mengatakan gaya berjilbab sangat bervariasi di semua negara Muslim. Umumnya, perempuan di negara-negara Teluk (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain, Qatar dan Kuwait) gemar mengenakan gaun hitam panjang dan serba tertutup. Sementara perempuan di Mesir dan Levant (termasuk sebagian wilayah Lebanon , Suriah, Yordania, Israel dan Wilayah Palestina) memakai jilbab yang lebih berwarna dan mengekspos wajah mereka.

“Anda dengan mudah menebak asal negara berdasarkan jilbab,” kata Ali,
Alhawary melihat Turki merupakan negara dengan pengaruh yang besar terhadap tren jilbab. Ia menilai sekularisasi Turki mengakibatkan perempuan negara itu mempertahankan jilbab dengan kreatifitas.
“Selama tujuh tahun pertama saya memakai jilbab. Ada semacam kurang nyambung antara pakaian dengan jilbabku,” ungkap Presiden Asosiasi Mahasiswa Islam Eman Abdelhadi.

Abdelhadi telah mengenakan jilbab sejak berusia sembilan tahun. Ia pengemat jilbab sutra berwarna-warni. “Saya cenderung memakai warna-warna yang lebih solid,” katanya.

Berkat kreasinya itu, Abdelhadi menjadi perhatian. Tapi ia tidak terganggu dengan hal itu. “Ada perasaan yang berbeda dan seolah diawasi,” katanya.

Belum Diterima
Baik Ali dan Alhawary sempat mengalami pengalaman buruk. Sewaktu di Norwegia, Ali mengalami kesulitan menemukan pekerjaan di rumah lantaran ia mengenakan jilbab.

Alhawary berpendapat penting untuk memisahkan dasar keagamaan jilbab dari konteks budayanya dan praktik agama. “Ini yang perlu dipahami negara-negara barat,” katanya.

Meskipun jilbab berpotensi untuk menjadi disalahartikan, Ali dan Abdelhadi bangga untuk mengenakan jilbab dengan istilah dan keyakinan secara yang positif.”Saya benar-benar menganggap diri saya seorang feminis Muslim di jalan, karena saya percaya pada kekuatan perempuan,” kata Ali. (Johar Arif/Agung Sasongko/RoL)




Qordhowi : Khilafa Bisa Bentuknya Federasi atau Konfederasi

Doha - Ketua Persatuan Ulama Muslim Sedunia (IUMS), Syaikh Dr. Yusuf Qaradhawi, mengatakan bahwa khilafah yang diumumkan organisasi Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS) tidak berarti apa-apa, dan tidak memenuhi persyaratan sebuah khilafah Islamiyah.

Hal itu disampaikannya di sela-sela pertemuan tahunan IUMS di Istambul yang diadakan Rabu-Jumat (20-22/8/2014). Beliau mengatakan, “Khilafah Islamiyah yang didirikan pada zaman ini bisa dibentuk dari beberapa negara yang menerapkan syariah Islam sesuai dengan kehendak penguasa dan rakyat negara-negara itu. Bentuknya bisa federasi atau konfederasi. Tidak harus seperti khilafah zaman dulu.”

Syaikh Qaradhawi juga menyebutkan adanya negara besar seperti Cina yang jumlah penduduknya mencapai 1.5 miliar jiwa. Sedangkan jumlah umat Islam seluruh dunia mencapai 1.7 miliar. Oleh karena itu, umat Islam sebenarnya bisa membentuk semacam union. Tapi hal itu menuntut adanya para pemimpin yang adil, bisa melihat permasalahan dengan realistis, dan bekerja sama dengan rakyatnya. Mereka itulah orang-orang yang bisa membangun uni negara Islam tersebut.

Adapun tentang kelompok-kelompok Islam keras, Syaikh Qaradhawi menyatakan bahwa munculnya mereka adalah sebuah reaksi dari kondisi politik yang rusak. Anak-anak muda gampang ikut orang-orang yang keras. Dengan itu mereka beranggapan telah berjihad di jalan Allah. Mereka mengkafirkan muslim yang lain, dan membunuhi ahlu dzimmah (non Muslim yang berada di negara Islam dengan damai). Ini adalah masalah besar, karena Islam tidak mengakui adanya ekstremisme.

Untuk menyelesaikan masalah ini, menurut Syaikh Qaradhawi, dibutuhkan kerja besar. Fiqih moderat harus meluas di antara umat Islam. Karena Rasulullah dalam banyak kesempatan mengajak umatnya bersikap moderat dan meninggalkan sikap ekstrem. Walaupun Islam moderat dan mudah seperti itu, tapi juga tidak dibenarkan sikap mempermudah-mudahkan agama ini. (sumber: dakwatuna)
Back to top