.
Diberdayakan oleh Blogger.

Tips Anak Balita Untuk Menghafal Al-Qur'an

B & B - Memiliki anak yang hafal Al-Qur'an (hafidz) merupakan impian sebagian besar orang tua muslim. Namun kadang masih sedikit yang memahami bagaimana cara meraih impian ini.

Berikut tips dari Ustadz Ahmad Al Hafidz tentang Cara Mengajarkan Anak Menghafal Al Qur'an Sejak Dini 

1. Bayi (0-2 tahun)
-Bacakan Al Qur'an dari surat Al fatihah
-Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
-Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
-Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan metode yang sama
-Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1x2

2. Diatas 2 tahun
-Metode sama denga teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, mis dari 5 hari menjadi 7 hari
-Sering dengarkan murattal

3. Diatas 4 tahun
-Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
-Ajari muraja'ah sendiri
-Ajari menghafal sendiri
-Selalu dimotivasi supaya semagat selalu terjaga
-Waktumenghafal 3-4x perhari


 [facebook.com/HafalQuran]

Merubah Prilaku Anak Dengan Kasih Sayang

Seorang kepala sekolah menuturkan....
Suatu kali aku datang ke sekolah....Tiba-tiba aku dikejutkan dengan tulisan mengandung celaan di tembok pagar sekolah yang mengarah keluar. Tulisan itu menggunakan cat semprot.

Setelah menelusuri siapa yang melakukan itu, dengan cara memperhatikan siapa saja siswa yang bolos hari itu, ditemukan lah sang pelaku. Seorang siswa kelas 3 SMA.

Orang tua dari siswa itu segera diminta untuk datang ke sekolah. Setelah ia sampai di sekolah dan menyaksikan apa yang ditulis anaknya di tembok pagar sekolah, serta merundingkan permasalahan yang terjadi, dengan gaya sangat tenang ia meminta anaknya untuk hadir. Lalu ia mendengarkan pengakuan anaknya bahwa benar, ia yang telah melakukannya.

Selanjutnya ia mengeluarkan HP dan menghubungi tukang cat. Dia memintanya untuk datang ke sekolah setelah memberikan alamat lengkapnya. Dia meminta untuk mencat kembali pagar itu dengan warna yang sama hingga kondisinya lebih bagus dari semula.

Sebelum ia minta izin untuk kembali, ia menghampiri dan mengelus kepala anaknya sambil berkata dengan sangat tenang dan lembut: "Anakku sayang, bila kamu sudah angkat kepala ayahmu ini jangan kamu benamkan lagi!"

Kemudian ia minta izin dan segera berlalu.

Kepala sekolah melanjutkan ceritanya:

Aku melirik ke arah siswa itu, tiba-tiba ia meletakkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya, lantas ia menangis tersedu-sedu.

Aku dan pembina siswa betul-betul tercengang melihat cara bapak anak itu dan bagaimana pengaruh cara yang ia lakukan terhadap anaknya.

Siswa itu berkata sambil terisak-isak: "Kiranya ayahku memukulku dan tidak mengatakan perkataan itu kepadaku".

Kemudian siswa itu minta maaf dan memperlihatkan mimik penyesalan yang luar biasa. Hari-hari berikutnya ia berubah drastis menjadi salah seorang siswa terbaik di sekolah itu.

Ibroh:

- Pendidik yang sukses adalah pendidik yang mampu memanfaatkan kesalahan dan masalah yang terjadi untuk meluruskan dan membenarkan tingkah laku anak didik.

- Kata mutiara orang dulu mengatakan: "Kesalahan itu adalah jalan yang benar".

- Hukuman itu bukan lah tujuan.

- Yang menjadi tujuan adalah menyelesaikan masalah dan keluar dari masalah itu dengan melahirkan hasil yang positif.

Maafkan Sesama Untuk Menjemput Syurga

“Akan datang kepada kalian seorang laki-laki ahli syurga” kata Rasululloh. Sontak mendengar hal itu para sahabat menjadi riuh, siapakah ahli syurga yang dimaksud Rasululloh?
Apakah dia orang yang paling berani dalam berjihad? Yang paling banyak shoumnya? Sedekah dan qiyamul lailnya paling rajin?
Tiga hari berturut-turut Rasululloh mengatakan hal yang sama, dan yang melintas setelah itu selalu sosok yang sama, yakni salah seorang sahabat Anshar.
Abdullah bin Amr bin Ash sangat penasaran, sehingga beliau bertekad mencari tahu rahasia amalan sahabat Anshar tersebut.
Strategi pun disusun agar Abdullah bisa bermalam selama tiga hari di rumah sang sahabat Anshar.
“Aku memiliki persoalan dengan Ayahku, sudikah engkau membolehkan aku bermalam di rumahu selama tiga hari?” tahya Abdullah.
“Tentu saja, silakan!” jawab sahabat Anshar itu.
Di hari pertamanya Abdullah tidak menemukan adanya ibadah istimewa yang dilakukan sahabat Anshar itu. “Mungkin besok aku akan mengetahui rahasianya.” ujarnya dalam hati.
Namun sayang hingga hari ketiga, Abdullah tidak menemukan apa yang dia ingin ketahui dari sahabat Anshar itu. Tentu saja Abdullah bingung karena sahabat Anshar itu tidak pernah shoum sunnah, Sholat malam pun tidak, lantunan dzikir juga tidak pernah Abdullah dengar dari lisan Sahabat Anshar itu.
Di hari ketiga, akhirnya Abdullah menyerah dan mengatakan yang sesungguhnya kepada sahabat Anshar itu bahwa dia tidak pernah bertengkar dengan Ayahnya, dia hanya ingin tahu apa amalan yang sahabat Anshar itu lakukan sehingga Rasululloh menyebutnya sebagai ahli surga.
“Beritahukanlah aku rahasia amalanmu agar aku bisa melakukannya dan menjadi ahli syurga sepertimu” kata Abdullah.
“Aku tidak memiliki amalan selain engkau lihat selama tiga hari menginap di rumahku,” katanya. Jawaban itu tidak memuaskan Abdullah, akhirnya ia pun minta ijin untuk pulang.
Namun tak jauh melangkah, Sahabat Anshar itu memanggilnya . “Benar sekali amalanku hanya yang engkau lihat selama ini, namun ada yang lupa aku ceritakan padamu yaitu sebelum aku tidur kuingat semua orang yang perbuatannya pernah menyakitiku dan aku tidak akan tidur kecuali telah memaafkannya.”
Mendengar itu Abdullah tersenyum puas karena apa yang ia inginkan akhirnya telah ia dapatkan.
Sahabat Ummi, masih adakah orang-orang yang belum kita maafkan karena mereka pernah menyakiti kita?
Relakah jika surga menjauh dari diri kita hanya karena telah bertekad seumur hidup takkan pernah mengampuni kesalahan orang tersebut?
Jika kita ingin Allah mengampuni segala kesalahan kita dan memasukkan kita ke syurga-Nya, yuk saat ini juga... Hadirkan kembali wajah-wajah orang yang pernah mendzolimi, menyakiti, dan memperolok kita. Lalu katakanlah, "Demi Allah, aku telah memaafkanmu..."
Semoga kemaafan ini, membuat Allah ridho pada hidup kita dan menjadikan kita salah satu penghuni syurga-Nya... Aamiin.

Proteksi atau Imunitas dalam Mendidik Anak ?

Anak itu ibarat dua sisi mata uang, satu sisi anak merupakan anugerah dari Allah SWT. Kehadiran mereka dapat menjadi penyejuk mata (qurota’ayyun) dan pelipur lara. Mereka ibarat bunga yang indah dalam kehidupan dunia.

Di sisi lain, anak juga merupakan fitnah, jika tidak hati-hati dan baik dalam mendidik mereka bisa menyebabkan penyesalan di dunia dan akhirat. Orang tua yang melalaikan pendidikan anak kelak akan merasakan penyesalan yang terdalam. 

Ketika anak tumbuh dan berkembang dengan semua keburukan yang diterimanya, dan ia akan menjadi ‘anak nakal’ yang sulit dikendalikan, apalagi sampai berbuat kriminal. Kelak orang tua pun harus bertanggung jawab atas kenakalan anak dan dianggap lalai dalam mendidiknya.

Karena itu, setiap orang tua pasti menghendaki buah hatinya berperilaku baik. Untuk mendukung hal itu, biasanya para orang tua yang mencintai dan peduli pada buah hatinya pasti memiliki berbagai referensi buku atau setidaknya pernah membaca buku tentang cara mendidik anak. Bahkan mereka rela meluangkan waktu untuk mengikuti berbagai tema seminar tentang cara mendidik anak, agar wawasan dalam mendidik anak kian luas dan bertambah.

Dengan harapan, orang tua mempunyai bekalan untuk mengajarkan dan membiasakan kepada buah hatinya perbuatan baik, sehingga ia terbiasa hidup dengan prinsip-prinsip kebenaran dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang tua pun akan bahagia dengan perilaku buah hatinya dan bahagia hidup bersamanya.

Namun, tidak dipungkiri bahwa era digital turut mempengaruhi budaya pergaulan buah hati kita. Terkadang para orang tua tidak mudah untuk mengaplikasikan berbagai teori tentang cara mendidik anak yang mereka peroleh melalui buku dan seminar. Secara teori, mungkin mereka sudah paham bagaimana cara mendidik anak agar kelak anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang unggul. Terkadang pula, mereka juga mengalami berbagai kendala untuk melindungi buah hatinya ketika berhadapan dengan realitas budaya lingkungan masyarakat yang cenderung destruktif.

Setidaknya, faktor yang dapat mempengaruhi perilaku buah hati kita di antaranya adalah teman bermain, teman bermain anak yang usianya lebih tua di lingkungan masyarakat bisa mempengaruhi perilaku buah hati kita. Dari pergaulan inilah buah hati kita akan mengetahui bagaimana orang lain berperilaku dan mereka dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

Ternyata, perilaku positif yang dicontohkan orang tua di lingkungan keluarga saja tidak cukup, buah hati kita lebih senang mencontoh perilaku teman bermainnya daripada mengikuti orang tuanya. Misalnya: ketika anak saya kepergok sedang merokok dengan teman sebayanya beberapa waktu lalu. Sebagai orang tua saya sangat terkejut ketika melihat kenyataan bahwa anak lelaki pertama saya yang berusia lima tahun itu belajar merokok, padahal saya sendiri sebagai ayahnya bukan perokok aktif. Sebagai orang tua, tentu tidak ingin buah hati kita tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh budaya negatif.

Proteksi atau Imunitas?
Ketika merespon perilaku buah hati kita dalam realitas lingkungan masyarakat yang dipenuhi budaya destruktif. Maka peran orang tua benar-benar diuji. Apakah untuk melindungi buah hatinya dari budaya negatif lebih memilih cara bagaimana membangun imunitas dalam diri anak ketika bergaul dengan lingkungan. Yaitu membangun prinsip dan nilai-nilai positif pada diri anak sehingga tidak mudah terpengaruh budaya negatif dari luar. 

Dengan sistem imunitas ini, buah hati kita dapat membedakan antara perilaku positif atau negatif yang diperankan teman sebayanya ketika bergaul di lingkungan masyarakat.

Atau kita lebih memilih menjadi orang tua konvensional yang membekali buah hati kita dengan berbagai aturan yang mengekang, membatasi pergaulan dan proteksi berlebihan untuk buah hati kita? Maka sebagai orang tua yang bijak, harus ada cara yang adil dalam menjembatani buah hati kita ketika bergaul di lingkungan masyarakat yang majemuk dengan beragam karakter. Sehingga kecerdasan sosial buah hati kita tidak terganggu dengan seperangkat aturan yang memasung tumbuh kembangnya.

Imam Ghazali mengungkapkan, “Setiap anak akan menerima semua bentuk kecenderungan yang disodorkan kepadanya ataupun yang dikatakan kepadanya.”

Karena itu, memang tidak mudah mengaplikasikan istilah “berinteraksi tanpa terkontaminasi” pada buah hati kita. Yaitu membekali buah hati kita dengan kemampuan agar tidak mudah terpengaruh hal negatif dalam pergaulan di lingkungan masyarakat. Atau mempunyai prinsip yang digunakan sebagai pedoman ketika bergaul di masyarakat.

Karena di saat bergaul di tengah-tengah masyarakat, buah hati kita akan berhadapan dengan beragam sikap, watak, budaya dan nilai-nilai sosial yang jauh dari bingkai moral keagamaan. Bisa jadi keluarga kita tinggal di lingkungan sosial yang rentan dengan budaya negatif destruktif yang dapat mempengaruhi perilaku dan pemikiran buah hati kita. Sehingga prinsip nilai-nilai kebenaran/ positif yang kita tanamkan atau ajarkan pada buah hati kita sedikit demi sedikit akan larut dalam kubangan budaya negatif destruktif. Dan buah hati kita akhirnya lupa akan nilai positif yang selama ini kita bangun.

Maka, sebagai orang tua, kita harus terus konsisten mempertahankan dan mengajarkan prinsip kebenaran dalam agama (Islam) kepada buah hati kita. Dengan ini, buah hati kita akan memiliki benteng “pembeda dan pembatas” yang mampu membentengi buah hati kita dari nilai-nilai destruktif yang ada di masyarakat. Dengan ini, buah hati kita tidak akan mengikuti keinginan-keinginan teman bergaulnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam dan malah bertentangan dengannya.

Memang, banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan tindak kriminal karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih. 

Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar berteman dengan orang baik (shalih), yang digambarkan dalam sebuah hadist Bukhari & Muslim, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita. Namun, jika kita tinggal di lingkungan masyarakat yang kurang kondusif, maka kita sebagai orang tua harus terus konsisten mendorong buah hati kita untuk berpegang teguh pada prinsip nilai-nilai kebenaran yang diajarkan agama.

Ketika dalam diri anak sudah tumbuh kesadaran dalam memegang prinsip, maka kita sebagai orang tua tak perlu lagi memproteksi buah hati kita dengan seperangkat aturan yang memasung kecerdasan sosialnya. Wallahu a’lam.

Penulis : Sucipto, SE



Ajarlah Anak-anak Seperti Kisah Lukman Hakim, Bukan Ala Barat

Oleh: Abdul Hamid M Djamil
KEMEROSOTAN ahklak nampaknya semakin merajarela dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim hari ini, terutama di kalangan remaja. Pada mulanya kemerosotan ahklak ini hanya terjadi pada remaja-remaja yang tidak tersentuh dengan dunia pendidikan. Pada tahun  berikutnya dekandensi ahklak sudah merasuki remaja-remaja terpelajar.
Hal ini bisa dilihat dari pergaulan mereka sehari-hari. Mulai dari pergaulan bebas, mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berpacaran, dan lain sebagainya. Kemorosotan ahklak kaum remaja semakin terlihat dengan banyaknya media-media yang mengekspos berbagai kasus negatif yang mereka lakukan.
Umumnya perbuatan buruk seseorang malu mengulangi. Dalam hal ini, seharusnya para remaja malu dengan kasus-kasus yang terkuak ke mata publik. Sekaligus timbul rasa penyesalan dan bercita-cita untuk tidak mengulangi lagi.
Tapi realitanya dengan benyaknya kasus yang terungkap, semakin semangat para remaja untuk melakukan hal-hal kejahatan. Naas!
Akibatnya sudah banyak dari remaja-remaja terpelajar yang kehilangan jati dirinya sebagai orang terdidik yang seharusnya berahklak terpuji.  Padahal ahklak inilah yang menjadi pembeda antara remaja terpelajar dengan remaja liar (baca: tidak terdidik).
Setelah terungkap kasus-kasus yang mereka lakukan, beragam kutukan pun dilemparkan atas mereka oleh berbagai pihak. Hal ini dilakukan untuk memberi arahan yang bahwa perbuatan itu tidak baik, bertentangan dengan norma agama dan sosial masyarakat. Sangat disayangkan pada hari berikutnya mereka kembali melakukan kejahatan yang sama.
Sebagai remaja terpelajar tentu bisa membedakan antara kejahatan dengan kebaikan. Sesudah melakukan kejahatan dan mendapat beragam kutukan, mereka pasti tidak akan melakukannya lagi. Mereka pasti merasa malu ketika kasus-kasus negatif terpampang ke mata publik. Namun kebanyakan remaja sekarang sama sekali tidak sadar.
Kelakuan mereka yang tak kunjung sadar itu terkadang menimbulkan beragam pertanyaan. Apakah remaja-remaja seperti itu hanya hadir sekolah untuk mengisi absensi kehadiran saja? Atau sekedar menampakan diri mereka ke mata masyarakat bahwa mereka pelajar? Ternyata tidak, kebanyakan dari mereka orang serius dalam belajar dan aktif dalam organisasi.
Sebagian orang menganggap kelakuan bejat mereka lahir dari diri mereka sendiri. Padahal jika diteliti ahklak remaja semacam ini terindikasi oleh pendidikan balianya. Karena pendidikan yang diberikan sejak kecil akan berpengaruh besar dalam pembentukan remaja seseorang.
Buruknya ahklak remaja sekarang berefek dari didikan balinya. Karena orangtua sekarang lebih memilih untuk memberikan pendidikan umum kepada anak-anaknya ketimbang pendidikan agama.
Yang kita saksikan, sejak lahir,  ilmu pertama kali yang terima anak-anak di lingkungan kita adalah cara main gadget. HP, laptop, main game, lalu cara berhitung, berbahasa Inggris, dan lain sebagainya. Karenanya jangan heran, saat ini anak-anak balita begitu lihat memainkan alat-alat komunikasi ini.
Apakah ini terlarang? Tentu tidak itu masalahnya.
Cara mendidik para orangtua zaman sekarang ini tidak seperti para orangtua zaman dahulu, di mana ketika anak lahir, sudah jauh hari ia dikenalkan dengan hakekat Tuhannya.
Para orangtua mengenalkan mereka agama dengan harapankelak akan membuatnya tidak salah arah.  
Bedanya, kebanyakan orangtua zaman sekarang dalam mendidik anak sudah meniru cara Barat. Sehingga tidak heran jika pada saat remaja, anak-anak mereka berkelakuan seperti remaja-remaja Barat.  
Sebagai ummat Islam pendidikan pertama yang harus diberikan kepada anak-anaknya adalah mengenalkan Allah سبحانه و تعالى  (Ilmu Tauhid). Ketika si anak sudah mengenal Allah, para orangtua yang bijak biasanya akan mengajarkan mereka cara-cara beribadat yang benar (Ilmu Fiqih). Selanjutnya diajarkan cara menjaga ibadat tersebut agar tidak sirna (Tasauf).
Jika ketiga pendidikan ini sudah ada pada diri si anak, ketika beranjak masa remaja anak-anak kita akan menjadi pribadi yang kuat. Baik baik budi pekertinya, lembut tutur katanya. Karena ketiga pendidikan di atas sudah merepresentasi bagaimana cara berintereaksi dengan Allah سبحانه و تعالى dan cara berintereaksi dengan manusia.
Pendidikan anak cara al-Quran
Dalam al-Qur’an sudah tertera cara mendidik anak serta ilmu apa pertama kali yang harus ditanamkan oleh orangtua. Banyak kisah-kisah para pendahulu kita yang sukses mendidik anak dengan metode Alquran. Sebut saja Lukmanul Hakim. Lalu pelajaran apa saja yang beliau berikan kepada anaknya?
Pertama, persoalan aqidah. Sebagaimana firman Allah,” Wahai anak ku jangan sekali-kali engkau sekutukan Allah” (QS: Al-Lukman:13).
Kedua, rasa hormat kepada orangtua. Sebagai mana firman Allah;
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
” Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapakya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada ku dan ke dua ibu bapak mu, hanya kepada ku lah kembalimu.” (QS: Al-Lukman: 14).
Ketiga, pendidikan moral.
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِي
” Wahai anakku bila ada kebaikan yang kamu kerjakan, kecil (tidak nampak oleh pandangan mata yang zahir), yang kecil itu tersembunyi dipuncak langit, di dasar bumi yang paling dalam atau di tengah-tengah batu hitam sekalipun, Allah pasti akan mengetahuinya dan pasti akan memberikan balasan yang sedail-adilnya” (QS: Al-Lukman: 16). 
Keempat, tatanan hidup si anak
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Wahai anakku dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah” (QS: Al-Lukman: 17). 
Inilah dasar-dasar agama dalam mendidik anak yang harus diaplikasikan oleh setiap orangtua sebelum memberikan berbagai disiplin ilmu lainnya. Mantapkan aqidah, tanamkan rasa hormat kepada orangtua, ajarkan ahklak dan tingkah laku yang baik, kemudian berikan tatanan hidup yang sesuai dengan Islam.
Kalau metode pendidikan Lukmanul Hakim sudah menjadi prioritas orang-orangtua sekarang dalam mendidik anak, insya Allah anak-anak kita nantinya akan tumbuh sebagai remaja yang taat kepada Allah, patuh kepada orangtua, dan jauh dari tingkah laku yang tercela. Kita lihat saja. *
Penulis adalah mahasiswa Al Azhar – Kairo, sekarang berprofesi sebagai Koordinator Litbang KMA Mesir, dan Alumni Dayah Ummul Ayman Samalanga, Bireun. Email:mmd_jhon@yahoo.co.id
*sumber : Hidayatullah.com
Back to top