Selasa, 24 Desember 2013

PROGRAM Pembangunan Ruang Kelas







Assalamu’alaikum wr.wb.

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas semua karunia-Nya yang dilimpahkan kepada kita. Sehingga kita masih diberikan kesehatan dan dapat melaksanakan aktifitas dengan baik .

Bersama ini kami dari TPQ Al-Istiqomah, Kelurahan Kabil, Kec.Nongsa P.Batam, sedang melaksanakan Pembangunan Ruang Kelas TPQ Al-Istiqomah, dengan keterangan sebagai berikut:

§  Lokasi                         : Perum.Kabil Raya RW VII,Kec.Nongsa,P.Batam
§  Luas Bangunan            : Lantai 1 = 58.88 m2 , dan Lantai 2  =  126 m2
§  Rencana Biaya            : Rp. 229.333
§  Sumber dana               :       

1.     Infaq, shodaqah, Jariyah dari masyarakat muslim perum. Kabil Raya, dan
        Umat Islam pada Umumnya.

2.     Bantuan/sumbangan dari Instansi Pemerintah/Swasta dan Donnpihak-pihak lain yang sah 
        dan tidak mengikat.

3.    Account BSM No 7053765647

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, bersama ini kami memberikan kesempatan kepada segenap Kaum Muslim dan Muslmit yang akan membntu Program Pembangunan Ruang Kelas TPQ Al-Istiqomah tersebut.

Demikian permohonan ini, atas perkenan dan terkabulnya permohonan ini kami sampaikan 
jazakumullahu khairankatsira.

Wassalamu’alaikum wr. Wb.



TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN
AL-ISTIQOMAH


AGUS FAQIKHUDIN 




Pembangunan Lantai 1




Denah Lantai 1



Senin, 23 Desember 2013

Galery TPQ Al Istiqomah


Sabtu, 29 Juni 2013

Berakhirnya Thn Ajaran 2013

Senyum ceria ditunjukan oleh santriwan santriwati TPQ Alistiqomah, setelah berakhirnya tahun ajaran 2012-2013, yang ditandai dengan penerimaan raport pada tanggal 22 Juni 2013, pekan sebelumnya anak-anak tingkat Iqra dan Al-Qur'an telah diwisuda terlebih dulu.

Tingkat Al-Qur'an alhamdulillah telah meluluskan 18 santri dengan nilai baik, yang diselenggarakan oleh BMG Kota Batam. Dan pada tanggal 22 Juni anak santri Tingkat Iqra mewisuda 18 anak santri, yang diselenggarkan di Masjid TPQ Al-Istiqomah.








 

Rabu, 10 April 2013

Merindukan Gedung TPQ-ku yang nyaman

Sudah hampir satu bulan santir TPQ Al-Istiqomah belajar diserambi masjid, ada yang didalam ruang utama masjid, dua kelas, dan satu kelas masih di ruang kelas. 











Saat ini memang Gedung TPQ sedang dilakukan perehaban Ruang kelas, gedung semi permnanen yang didirikan thn 2005. Semoga kerinduan guru, santri, wali murid dan pengurus tpq, akan hadirnya kelas yang nyaman dan layak untuk kbm dapat segera terwujud, amiin. Do'a dan dukungan kaum muslimin kami juga harapkan.




MUNAQASAH 2013


TPA/TPQ se-Kota Batam serentak mengikuti Munaqasah, yang diselenggarakan oleh BMG Kota Batam, hari Ahad tanggal 7 April 2013.

Pukul 07.00 WIB anak-anak santri TPQ Al-Istiqomah mulai bersiap menuju Mushola Al-Muttaqin, tempat penyelenggaraan munaqasah (ujian sertifikasi), setelah mengikuti pemantapan persiapan kurang lebih satu bulan.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, tahapan-tahapan ujian baru bisa diselesaikan. Cukup memakan waktu juga berlangsunnya ujian, mengingat peserta dan banyaknya materi yang diujikan, ujian tertulis, hafalan dan ujian praktek.

Smoga mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan...amiin



Rabu, 20 Maret 2013

Ikhlas Dalam Beramal


“Asyik… Asyik… aku masuk ke dalam kotak amal.” Goci berteriak senang.
Ia pun langsung berbaur dengan uang-uang lainnya, ada si Sebi (seribu), si Gopi (lima ratus), si Sepu (Sepuluh ribu), si Dopu (dua puluh ribu), si Limbu (lima puluh ribu) dan si Sertu (seratus ribu).

“Hai kawan-kawan. Senangnya bertemu dengan kalian di sini. Semoga kita bisa menjadi saksi dari orang-orang yang menaruh kita ke dalam kotak amal ini.” Goci menyapa semua uang di dalam kotak amal bening itu.

Semua uang tersenyum menyambut kedatangan si Goci.
Kotak amal bening yang berada di Masjid Akbar, senantiasa menjadi pemandangan umum para jamaah yang hilir mudik hendak melaksanakan shalat. Keberadaannya di depan pintu masjid sangat strategis, tidak jarang orang-orang dengan senangnya “menitipkan” uangnya ke dalam kotak amal. Tapi ada juga yang enggan atau pura-pura tidak melihat bahwa di depannya ada kotak amal.

Dan hari ini adalah hari bersejarah bagi Goci. Bukan karena nilainya yang termasuk besar yang ada di dalam kotak amal. Tapi karena si pemilik Goci sebelumnya yang ia tahu bukanlah orang yang tergolong mampu. Hanya si bapak tukang sapu jalanan. Goci sempat melirik wajah bapak itu sebelum memasukkan Goci ke dalam kotak amal. Tersirat keikhlasan dalam wajah lugunya. Goci sempat mendengar gumaman bapak itu, “Ya Allah, terimalah sedekahku untuk rumah-Mu, semoga uang ini bisa bermanfaat.”

Sebelum berada di kotak amal dan milik si bapak tukang sapu jalanan, Goci adalah milik orang kaya yang memberikan Goci pada bapak tukang sapu jalanan. Sebagai imbalan karena telah membantu menyapu halaman rumahnya, alasan orang kaya itu memberi.

Dan kejadian itu belum berlangsung lama. Hanya sekitar dua puluh menit sebelum Goci di masukkan ke dalam kotak amal, beberapa saat sebelum azan Ashar berkumandang. Tapi bapak tukang sapu jalanan itu merasa bahwa uang yang di dapat hari ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya bersama istri dan keempat anaknya yang masih kecil, maka Goci pun langsung berpindah ke kotak amal.

Goci amat terharu. Ia bisa menjadi tabungan kebaikan bagi bapak tukang sapu jalanan. Nilai yang biasanya hanya di berikan dari kantong orang-orang kaya. Tapi kali ini bukan orang kaya yang memasukkan Goci ke kotak amal, hanya orang biasa. Yang mungkin karena ketulusannya bisa menjadi istimewa di hadapan Allah.

Goci ingat. Ketika pemiliknya masih orang kaya, ia berada di dompet pemiliknya dalam waktu lama. Justru yang sering keluar dari dompet adalah si Limbu dan si Sertu. Itupun yang Goci tahu, kawannya itu meninggalkan dompet pemiliknya tatkala Goci dan kawan-kawan berada di pusat perbelanjaan mewah.

Pernah suatu kali, pemiliknya itu pergi ke Masjid Akbar. Saat itu, ia hendak melaksanakan shalat Zhuhur sehabis makan siang. Seusai shalat ia melirik ada kotak amal bening. Sempat berfikir lama, akhirnya ia merogoh kantong dan menemukan si Sebi. Dan masuklah si Sebi ke kotak amal itu sebagai penghuni.

Meski Goci dan Sebi pernah di miliki oleh orang yang sama sebelumnya, tapi mereka belum pernah berjumpa. Mereka sadar bahwa mereka pernah di miliki oleh orang yang sama justru ketika mereka berjumpa dalam kotak amal, saat mereka berbagi cerita.
“Mungkin karena aku hanya berada di kantong celana sedangkan kau di dompet, jadinya kita tidak pernah bertemu.” Sebi memberikan penjelasan kepada Goci.

“Alhamdulillah kita bertemu di sini ya Sebi. Padahal aku berharap yang memasukkanku ke dalam kotak amal adalah orang kaya itu.” Goci pun menerawang.

“Tidak apa Goci, justru kamu akan menjadi lebih bernilai nanti di akhirat. Karena jumlahmu yang termasuk besar bagi bapak tukang sapu jalanan, tapi tidak menghalanginya untuk memberi yang terbaik untuk agamanya….” Si Limbu dengan bijak menghibur Goci.
“… Karena setahuku, jika yang memberikanmu adalah orang kaya itu akan berbeda nilai dalam pandangan Allah.” Limbu menambahkan.

“Loh, emang kenapa? Bukankah Allah hanya melihat keikhlasan hambaNya dalam memberi?” Tanya Gopi penasaran.

“Memang benar, keikhlasan adalah yang utama. Tapi di samping itu bagi orang kaya, Goci mungkin tidak seberapa berharga dan orang kaya itu pasti punya banyak uang senilai Goci bahkan yang nilainya jauh lebih besar. Tapi bagi yang tidak mampu, mungkin Goci bisa jarang ia temui. Atau bahkan jika punya pun pasti sangat berharga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.” Ujar Limbu.

“…. Makanya Allah menilai usaha orang yang tidak mampu, lebih besar ketika beramal dengan jumlah yang sama dengan apa yang di berikan oleh orang kaya. Karena alasan tersebut.” Sertu menambahkan penjelasan dari Limbu.

“Benar… benar… benar.” Dopi dan Gopi tersenyum.
“Iya kawan-kawan. Mungkin jumlahku termasuk kecil bagi orang kaya, tapi ternyata tidak semua orang kaya mau memasukkanku ke dalam sini.” Goci terlihat senang.
“Siapapun yang memasukkan kita ke dalam kotak amal ini, semoga hanya dilandasi keikhlasan karena Allah, bukan karena ingin di lihat atau terpaksa.” Kata Sebi.
“Aamiin.” Uang itu serempak berucap.

Dan di sore nan sejuk itu, angin mengiringi langkah si bapak tukang sapu jalanan menyisir setiap jalan di ibu kota dan membersihkannya dari sampah-sampah. Dan uang-uang di kotak amal itu melantunkan doa terbaiknya untuk si bapak.
“Secara fisik bapak itu terlihat miskin, namun hatinya sangat kaya. Ia adalah orang kaya sesungguhnya.” Goci berucap lirih.

Rasulullah saw bersabda, “Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham?” Beliau menjawab, “Ada seseorang yang memiliki dua dirham, lalu mengambil salah satu darinya dan menyedekahkannya. Yang lain, memiliki banyak harta, lalu mengambil darinya seratus ribu dirham saja.” (HR. Ahmad)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18932/dialog-uang-dalam-kotak-amal/#ixzz2O2zvq1Gt 

Kamis, 13 Desember 2012

Pesan Imam Al-Ghazali : Ilmu Tanpa Amal


Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.
Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: “Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.”
Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.
Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, “Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata”.
Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.

Sumbaer : Eramuslim 


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by TPQ Alistiqomah