.
Diberdayakan oleh Blogger.

Seni Mendampingi dan Bernegosiasi dengan Anak

Istiqomah - Pembaca setia…! Seringkali terucap sebuah statement yang menyatakan bahwa orangtua itu jangan sampai kalah oleh anak. Atau kalimat lain yang bernada sama misalnya : “Ada bos, ada bawahan. Maka yang berstatus bos tentu saja orangtua. Jadi, jangan sampai kita kalah oleh anak.” Benarkah demikian? Lalu, setujukah Anda?

Ayah dan Bunda…! Pada dasarnya memang benar bahwa siapapun orangtua, seharusnya jangan sampai kalah oleh sesosok makhluk unik bernama ANAK. Namun sayang seribu kali sayang. Paradigma salah kaprah yang terlanjur menjadi fakta adalah bahwa orangtua merasa bangga ketika dirinya berhasil mengekang keinginan anak, atau merasa berhasil ketika amukan anak tiba-tiba mereda setelah disembur dengan makian dan ancaman, atau merasa menang ketika anak berhenti merajuk setelah ditakuti, atau merasa lega ketika anak berhenti berulah setelah dipelototi dan diacungi telunjuk.

Tentu saja, konteks yang demikian sangatlah tidak fair dan tidak berpihak pada kepuasan anak. Dan kalaulah diasumsikan sebagai sebuah permainan, maka konteks yang demikian adalah permainan yang tidak sehat. Mengapa demikian? Karena dibalik kemenangan yang kita akui, pada saat itu jiwanya melunglai, optimisnya meranggas bagai ranting kering, kepercayaan dirinya beterbangan, dan harga dirinya menggelepar.

Dan parahnya, kita sebagai orangtua hampir tidak memperhatikan hal itu, dan hampir tidak pernah merasa menzhalimi. Padahal semestinya, kemenangan kita tidak bisa ditentukan dengan belalakan mata, tidak bisa diukur dengan acungan telunjuk, tidak bisa ditakar dengan ancaman dan tidak pula bisa ditentukan oleh amarah, melainkan oleh wibawa dan komunikasi dari hati ke hati.

Anak itu butuh alasan dan penjelasan. Intinya, anak butuh keterangan-keterangan yang membuat dirinya paham dan dapat diterima oleh logika berpikirnya. Lalu bagaimana, jika suatu saat anak menunjukkan perilaku yang membuat kita kesal seperti:

  1.  Menginginkan barang tertentu dan hampir tidak mau diganti dengan barang yang lain. 
  2. Memainkan benda-benda penting yang pada saat itu kita butuh sekali untuk menggunakanannya. Sementara anak kekeuh tidak bersedia menyerahkan.
  3. Tidak mau berhenti bermain air di kamar mandi, sementara Anda dikejar-kejar waktu harus berangkat dengan segera.
  4. Memegang atau meraih atau memainkan benda berbahaya
  5. Tidak mau memberi
  6. Tidak mau mandi
  7. Tidak mau bangun
  8.  dll

Nah, jika Anda akhirnya dipertemukan dengan beberapa fragmen demikian, langkah pertama yang wajib Anda biasakan adalah HINDARI BERSIKAP REAKTIF. Sikap reaktif Anda berpotensi menurunkan wibawa dan kekuatan Anda. Sebaliknya, sikap tenang Anda adalah modal utama bagi Anda untuk berpikir lebih sehat dan cenderung melahirkan solusi. Bahkan ketika anak menyebutkan sekian macam hal yang diinginkannya secara berturut-turut dalam satu waktu, maka cukuplah menjawabnya dengan kata BOLEH. Contoh;

Anak       : Mama, aku mau ice cream…!
Orangtua : Boleh
Anak       : Mama, aku mau beli mobil-mobilan…!
Orangtua : Boleh
Anak       : Tapi beli mobil-mobilannya harus sekarang
Orangtua : Boleh
Anak       : Beli mobil-mobilanyaaaa, harus sekaraaaaaaang.
Orangtua : Boleh
Anak       : Mamaaaaaaa…! Sekaraaaaaang…!

Barulah setelah si anak mulai bosan dan marahnya mereda, Anda jelaskan dengan bijak bahwa benda yang dimaksud tidak mesti didapat pada saat ini juga. Lalu tegaskan bahwa Anda tidak berbohong dan yakinkan bahwa besok atau lusa, Anda benar-benar akan membelikan.

Selanjutnya, jika anak memainkan benda-benda penting yang pada saat itu pula benar-benar Anda perlukan seperti handphone, buku, laptop, kunci motor, kunci mobil dan lain sebagainya, sementara anak bersikeras tidak mau menyerahkan benda tersebut, maka secepatnya Anda mencari benda pengganti yang memungkinkan anak teralihkan perhatiannya. Jangan lupa pula untuk menegaskan dengan kata-kata bahwa benda yang Anda sodorkan betul-betul menarik dan membuatnya penasaran. Intinya, lakakanlah sebuah usaha yang disebut dengan “gombalisasi”.

Konteks berikutnya adalah ketika anak enggan melakukan sesuatu seperti minum obat, mandi, dan lain-lain. Untuk yang satu ini, mohon Anda menahan diri untuk tidak menyampaikan akibat-akibat buruk. Cukup merayu dengan hal-hal yang menggairahkan dan memberi kesan positif. Contoh :

  • Yuk, kita minum obat asyik yuk…! Kalau kakak mau minum obat, Kakak jadi sembuh, jadi tambah cantik, jadi tambah hebat, jadi bisa jalan-jalan lagi.
  • Mandi dulu yuk…! Robot sama mobilnya kita ajak mandi juga ya…!
  • Baju sama celana bagusnya kita coba dulu yu…! Nanti Kakak tambah cakep, tambah ganteng, tambah hebat.
  • Sekarang coba Anda bandingkan dengan kalimat yang berbau ancaman.
  • Kakak, kalau kakak nggak mau minum obat, nanti sakitnya tambah parah. Nanti kakak nggak bisa apa-apa. Nanti kakak bisa lumpuh.
  • Pokoknya Adik harus mandi dulu. Adik ga bisa ikut Mama kalau ga mau mandi.
  • Mau pakai baju nggak? Ya udah, Mama tinggalin aja kalau maunya Kakak begitu.


Ayah bunda…. Banyak diksi (pilihan kata) yang bisa Anda gunakan untuk bernegosiasi dengan anak. Banyak cara juga untuk sekadar menunda keinginan mereka. Namun yang paling penting bagi kita adalah latihan dan pembiasaan.

Dan satu hal lagi yang perlu kita garisbawahi adalah bahwa memenuhi semua permintaan anak tanpa kecuali, adalah sebuah upaya yang secara tidak langsung mengantarkan mereka menjadi manusia yang tak berdaya. Semoga bermanfaat. Allohu’alam bish showaab.


Masalalu dalam Kehidupan

Istiqomah - Itu sebabnya mungkin Facebook sangat populer dan digemari. Di Facebook, orang tidak semata-mata bisa bersikap narsis dengan menyimpan segala status yang sering kali tak penting dan malah menunjukkan betapa—meminjam istilah Andrea Hirata—sakit jiwanya kita ternyata, karena selalu berharap, seseorang yang lain akan memberikan komentar pada beberapa kata yang kita simpan di dinding kita.
Di Facebook, alakuli haal, kita bisa menemukan orang-orang di masa lalu. Mulai dari teman waktu TK, SD, sampai perguruan tinggi, sekaligus teman-teman baru yang disebut dengan “menyambung silaturahmi tiba-tiba” itu, kemudian pada sebuah titik menemukan cinta-cinta monyet dan tak serius waktu SMA dan sebagainya, yang tiba-tiba saja, menautkan hati dan pikiran kita; betapa indahnya masa muda kita. Syukur-syukur ada orang yang mengunggah sebuah gambar yang ada kitanya di masa lalu. Bersama-sama dengan potongan rambut cepak a la Demi Moore di Ghost, Keanu Reaves diSpeed atau para pemuda tanggung namun cute di NKOTB dan Beverly Hills 90210.
Separuh hidup kita hidup dengan masa lalu, itu sebabnya mungkin sebagaimana pun amburadulnya musik sekarang ini, maka hanya lewat begitu saja di telinga kita. Misalnya saja lagu-lagu metropop melayu yang kata Rolling Stone Indonesia sebagai “bencana besar musik Indonesia” karena tidak menyajikan komposisi musik yang cukup bertanggung jawab dan sebagainya. Kita tidak pernah tertarik untuk memasang RBT Zhivilia, ST 12, dan sebagainya—dan biarlah, yang mendengarkan dan menyanyikan lagu mereka hanyalah ABG yang baru berusia 14 sampai 19 tahun!—dan thanks God masih ada Hijau Daun dan Andra and The Backbone, dan, Tuhan!, apa gerangan yang ada di pikiran bule-bule yang ikut dalam proyek Ahmad Dhani yang bernama The Rock itu?
Saya berani bertaruh, jika kita mempunyai uang lebih senilai Rp 50.000 dan kita pergi ke toko CD—karena toko kaset sudah lama tergerus zaman, maka kita akan memilih mungkin kaset KLA Project, Indra Lesmana atau bisa jadi Nike Ardilla,  U2 selain album No Line On The Horizon, Nirvana, Toto, Boyzone dan sebagainya lagi. Karena lagu-lagu mereka, sekali lagi, memberikan nuansa tertentu yang menghanyutkan kita pada pikiran yang sering kali terus mengais-ngais masa lalu.
Itu sebabnya mungkin, sekarang ini, reuni menjadi begitu populer, apalagi bada Idul Fitri. Tak kurang, saya saja yang tak populer di masa lalu, sekarang ini mendapat empat undangan agenda reuni. Ketika melintasi jalanan kota saya yang kecil, begitu pula spanduk dan pengumuman dari berbagai angkatan, berbagai institusi pendidikan, berbagai okasi dan sebagainya, memajang ajakan untuk berkumpul. Reuni itu.
Entah mengapa, saya malah mempunyai pengalaman yang cukup buruk dengan reuni. Atau setidaknya berpikiran buruk. Atau setidaknya, pola pikir saya yang generik namun agak sedikit sinikal—mudah-mudahan bukan karena hasad atau iri dan dengki. Sedikit demi sedikit, saya merasa polarisasi reuni mengarah pada, walau bagaimanapun, tidak diperuntukkan bagi mereka yang tidak “berhasil secara materi” dalam kehidupannya. Reuni selalu dipenuhi oleh mereka yang sudah bekerja mapan, bermobil, rata-rata ber-Blackberry atau ponsel high-end lainnya, mempunyai jabatan dan pekerjaan yang tinggi. Mungkin itu seleksi alam. Atau mungkin itu hanya perasaan saya saja yang tadi—terlampau perasa.
Saya juga merasa bahwa reuni tidak berjalan dan tak mempunyai tujuan tertentu. Hanya sekadar ngumpul, makan-makan, ngobrol dan bertemu selewat dengan teman-teman lama, kemudian mengambil foto untuk diunggah ke Facebook. Saya sendiri, tak begitu mempunyai gagasan lain, mau apa kemudian reuni-reuni itu, semoga teman-teman saya yang lama mempunyai pikiran dan niat dan dimensi yang lebih mulia daripada saya.
Sebelum Ramadhan, saya dengan keluarga bersilaturahmi ke beberapa guru SMA. Di antaranya adalah seorang guru kesenian yang juga dulu pembina OSIS dan sekarang terkena penyakit stroke. Kami berbincang cukup lama dan I dare say, it was a moment of rather personal for me, karena ternyata Maha Besar Allah!, ia masih mengingat saya—jelas itu sesuatu yang luar biasa, karena mungkin guru sangat mungkin untuk lupa kepada muridnya, tapi tidak ada seorang pun murid yang lupa kepada gurunya.
Kemudian, sebelum Lebaran, saya dan beberapa teman juga bersilaturahmi kepada guru SMA yang lain. Beliau bercerita berapi-api, persis seperti ketika beliau masih mengajar kami, namun sekarang lebih terdengar agak berat mungkin karena usianya juga: “Kemarin Bapak menghadiri reuni dengan angkatan lain, dan mereka memberikan sebuah HP kepada semua guru. Menurut Bapak, daripada bagi-bagi hadiah seperti itu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada apa yang telah diberikan mereka kepada kami, alangkah lebih baiknya dana berlebih yang ada itu dikumpulkan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Atau setiap reuni yang diadakan bisa membentuk suatu kumpulan dimana orang yang sudah berhasil berkomitmen membantu mereka yang masih nganggur, masih belum mapan…”
Masalahnya Bapak, satu golongan terakhir yang disebutkan itu, tidak pernah datang ke acara reuni.
Saad Saefullah


Jangan Bosan Kita Doakan Anak ABG kita

Istiqomah- mana yang tak bingung, kecewa bahkan mungkin sangat menyesal, kala melihat anak-anaknya yang tumbuh dewasa tak sesuai harapan?
Tentu seperti drama di sebuah film dimana suara petir menggelegar memekakkan telinga dan menyesakkan dada. Sangat kecewa.
Muncul berbagai macam pertanyaan dalam diri; mengapa semua ini terjadi; apa dosa yang telah dilakukan; mengapa anak-anak bersikap demikian jauh mengecewakan dan lain sebagainya.
Akan tetapi, sebagai Muslim kita harus cerdas melihat kenyataan yang mengecewakan itu dengan berbaik sangka kepada Allah. Prinsipnya adalah tak satu pun hal terjadi melainkan atas idzin-Nya. Dan, segala ketidakbaikan yang kita lakukan adalah berasal dari diri manusia sendiri.
Mungkin dengan kejadian tersebut Allah ingin kita melakukan intropeksi diri, apakah selama ini memang benar-benar mendidik anak secara utuh atau hanya menyandarkannya pada sekolah dan tidak begitu peduli dengan pergaulannya. Atau mungkin kita terlalu memanjakannya dengan memberikan kepercayaan tanpa kontrol memadai.
Terlepas dari kondisi apapun, sebagai orangtua eloknya tak terjebak pada apa yang terjadi. Tetapi dengan bersegera merapatkan diri kepada Allah Taala, manfaatkan senjata dari-Nya, yakni doa.
Pernah suatu kejadian seperti diurai di atas menimpa sebuah keluarga. Tidak saja kecewa yang menjelma, cemoohan dari tetangga dan saudara juga menerpa hari-harinya. Kondisi tersebut sangat memukul hatinya.
Beruntung, keluarga itu bersepakat mengatasi masalah yang berat itu dengan mendekatkan diri kepada Allah. Kejadian itu menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya tak punya daya dan selama ini telah tidak tepat dalam mendidik anak-anaknya.
Tiap malam suami istri itu bangun qiyamul lail (shalah tahajjud), sembari menguatkan asa kepada Allah akan pertolongan-Nya untuk bisa mengubah sifat-sifat tidak patut anak-anaknya. “Allah Maha Kuasa lagi Maha Mengabulkan Doa,” itulah yang diasah setiap saat.
Tidak sekedar doa, pasangan itu juga menggiatkan dirinya dalam amal sholeh, utamanya infak dan shodaqoh serta menyantuni anak-anak yatim. Itu dilakukan dengan sangat antusias dan berharap Allah berkenan mengabulkan doanya, mengubah watak dan sikap anak-anaknya.
Hingga bertahun-tahun lamanya, doa dan amalan di atas tetap dilakukannya secara sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, melalui suatu peristiwa tak terduga, anaknya mengalami suatu kecelakaan lalu lintas setelah frustasi dengan pilihannya yang ternyata salah. Semua keluarga tentu berduka, tetapi siapa sangka, justru dari peristiwa duka itulah sang anak berubah menjadi anak yang sholehah.
Anaknya yang awalnya tak berhijab, langsung mau berhijab, tekun sholat, mulai gemar mengaji, bahkan sangat rajin membantu orangtua dan saudara-saudaranya yang dalam kesulitan.
Anak itu 180 derajat berubah menjadi Muslimah. Semua orang heran, terkejut bahkan ada yang tidak percaya. Tetapi itu nyata di depan mata. Dan, semua nyaris tak bisa berkata apa-apa, kala Muslimah baru itu dilamar pria sholeh yang aktif dalam kegiatan dakwah.
Peristiwa itu memaparkan kuasa luar biasa Allah Taala kepada kita semua betapa doa, amal sholeh dan harapan yang tak pernah putus kepada-Nya bemar-benar akan dikabulkan oleh-Nya.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).
Dengan demikian, jauhi sifat putus asa, meskipun akal kita mengatakan mustahil. Sebab, bagi Allah tak ada yang tidak mungkin. Tinggal kita sendiri bersegera untuk berdoa dan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya secara ikhlas. Jika itu kita lakukan, insya Allah pertolongan-Nya akan menghampiri kita, dan itu pasti, karena itu adalah janji-Nya.Wallahu a’lam.*
Rep: Imam Nawawi


Kasih Ibu

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau lah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” ( QS. Al-Fatihah : 1-7)

Surah Al-fatihah, sesuai namanya sebagai pembuka Quran. Surah yang dibaca berulang-ulang oleh setiap muslim, menjadi salah satu rukun dalam ibadah shalat seorang hamba. Dalam surah ini Allah menjawab setiap lantunan doa nan mesra dari seorang ‘abid yang ihsan pada shalatnya. Demikian mulia surah ini mengambil peran dalam ibadah dan doa seorang hamba, hingga ia berjuluk Ummul Quran / Ibu Quran.

Makkah Al Mukaromah, kota yang Allah subhannahu wa ta’ala sucikan tanahnya. Tanah keberadaan Ka’bah yang dikelilingi Masjidil Haram, di mana seluruh umat dunia disatukan dalam satu arah kiblat. Tempat Nabi Allah yang hanif; Ibrahim ‘alaihissallam menempatkan keluarganya atas perintah Allah subhannahu wa ta’ala. Sehingga kecemasan seorang ibu (Siti Hajar) yang berlari antara Bukit Shafa dan Marwah, Allah jadikan bagian dari rukun ibadah Haji.

Di gersangnya pasir itu Allah azza wa jalla alirkan mata air penuh berkah (Zamzam) dari hentakan kaki seorang anak yang dikemudian hari Allah muliakan dengan kenabian, Ismail ‘alaihissallam. Tempat kelahiran Rasulullah Muhammad shalallahu’ allaihi wa sallam, yang setelah ditaklukkan oleh cahaya Islam kejadiannya (Fathul Makkah) menjadi sebab turunnya Quran surah An-Nashr ayat 110. Kota suci yang dinamai juga dengan Ummul Qura’/ Ibu dari kota-kota.

Kata “Ibu” menjadi istilah yang begitu mulia, dan memang memiliki peran yang Allah subhannahu wa ta’ala muliakan. Manusia bergelar “Ibu” yang dengan berjuta peran dan kasih sayangnya, Rasulullah shalallahu’ alaihi wa sallam pesankan untuk berbakti padanya dan bakti itu Allah jadikan sebagai salah satu amalan yang dicintai-Nya. Bagaimana kasih ibu digambarkan Rasulullah shalallahu’ allaihi wa sallam:

“Dari Umar bin Al Khaththab RA berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah SAW. Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang siap menyusui berjalan bergegas mencari anaknya yang hilang – sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu – ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda: Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya.


Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya” (HR. Al Bukhari dan Muslim). “Rasulullah SAW melintasi sekelompok sahabatnya – ada seorang anak kecil di tengah jalan. Ketika ibunya melihat hal itu, ibu itu ketakutan bahwa anaknya akan jatuh, lalu ia bergegas menghampiri dan memanggil-manggil: anakku-anakku, ibu itu berjalan cepat, dan mengambilnya.

Para sahabat bertanya: Ibu ini tidak akan melemparkan anaknya ke dalam api. Rasulullah SAW bersabda: Dan Allah tidak akan melemparkan kekasihnya ke dalam api neraka. Dan Allah tidak akan melemparkan kekasihnya ke dalam api neraka. (HR. Imam Ahmad dan Al Hakim dari Anas).

Dari hadist tersebut di atas kita dapati banyak pelajaran, terdapat dua kasih sayang yang tergambar. Begitu besar kasih sayang Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara kepada hambanya. Dan, secara naluriah kita dapati kasih ibu adalah begitu besar kepada anaknya.

Keberadaan yang sering di rumah sakit, menjadikan penulis melihat banyak naluri kasih sayang ibu yang begitu besar pada anaknya. Beberapa diantara kesempatan itu; Ada seorang pasien laki-laki tua berusia 68 tahun dirawat di salah satu ruang rawat inap, dari gejala dan keluhannya bapak tersebut terserang stroke.

Keadaan berkurangnya kemampuan bicara, bergerak, dan memori adalah wajar ditemukan pada pasien dengan penyakit demikian. Dengan ditemani seorang wanita tua yang sejak awal menemaninya didapati sang bapak terkena serangan stroke setelah bermain bola, olahraga yang memang biasa dilakukannya.

 Keesokan harinya, kami dapati cerita dari petugas malam rumah sakit bagaimana tangisan dan doa sang wanita tua di malam hari itu, yang kemudian beliau bercerita langsung begitu syahdu dan terisak kepada penulis. Menyadarkan banyak keadaan, ternyata retardasi mental (penurunan tingkat kecerdasan) pada si bapak bukan baru terjadi setelah serangan melainkan bawaan sejak lahir.

Aktivitas bermain bola si bapak yang menjadi kebiasaannya adalah bermain dengan anak-anak yang berusia sekolah dasar. Dan, ibu tua yang awalnya kami duga istri si bapak ternyata adalah ibunya. Dari cara sang ibu merawat dan menyuapi terlihat bagaimana kasih sayangnya yang bergitu besar, dan itu semua dilakukan selama lebih dari 68 tahun.

Di kesempatan lain, ada seorang ibu yang setia menjaga anak bayinya dengan sindrom down (keadaan bawaan, turunnya kemampuan tubuh secara umum dari manusia normal) sehingga harus dirawat dalam waktu yang cukup lama di rumah sakit. Dengan mata sembabnya sang ibu biasa mengadukan keadaan anaknya ke ruang perawat dengan begitu khawatir. Satu kesempatan karena kemampuan makan rendah, bayi kecilnya akan dipasang alat bantu makan melalui selang yang dimasukkan ke lambungnya oleh dua orang perawat. Saat itu ibunya justru mendekat ke jendela dan menatap keluar, karena tidak tega melihat prosesnya.

Dengan jarak yang cukup dekat, jelas terlihat sang ibu terus menangis dan mengalirkan air matanya. Sesekali bayinya tersedak karena selang yang sedang dimasukkan, terdengar sahutan isak dan tangis sang ibu yang menjadi jelas terdengar. Hingga ketika selesai proses yang ia tidak tega bahkan untuk melihatnya, segera diraih sang bayi dalam pelukan hangat kasih sayang disertai air mata yang sedari tadi belum berhenti mengalir.

Begitu banyak potret kasih sayang ibu yang kita dapati di manapun keberadaannya. Bahkan sejak awal kelahiran sang buah hati, mungkin baru beberapa detik gelar “ibu” didapatinya. Seakan terlupakan rasa sakit yang baru saja dirasakan, konon sakitnya melahirkan seperti rasa sakit patahnya 20 tulang dalam waktu bersamaan (meski dapat berkurang), ditambah waktu berbulan-bulan mengandung. Hal pertama yang ingin ditemui sang ibu adalah anaknya, langsung disambut dengan pelukan hangat dan segera menyusui dengan air susu terbaiknya.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: 


“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15). 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Ibu yang kasih sayangnya mengalahkan matahari pada bumi. Ibu tidak akan melewatkan kesempatan menjaga anaknya, bahkan dalam doanya. Ibu yang terus memikirkan anaknya, sampai detik ini sang anak tidak tahu dengan apa akan membalas semua kasih sayang ibunya. Bahkan, bahagia ibu adalah ketika melihat sang buah hati bahagia. Kasih sayangnya seperti sungai yang terus mengalir airnya.

Ditulis oleh seorang anak yang belum banyak berbakti pada ibunya. Belum bisa berbakti sedemikian Uwais Al Qarni radhiallahu’anhu yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pesankan kepada Umar bin khatthab dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhum jika bertemu minta padanya memohonkan ampunan kepada Allah azza wa jalla, padahal rasulullah belum pernah bersua dengannya. Disebabkan bakti yang bersegera dan kegigihannya menggendong sang ibu menunaikan ibadah haji melewati padang pasir tandus dan panas.

(Rdiha Setiawan)

Dunia Arab terjajah kecuali Gaza yang berani melawan


Istiqomah - Perang yang berlangsung selama 50 hari antara pejuang Gaza melawan tentara Zionis Israel membuat dua istilah ini populer beredar di kawan Timur Tengah. As Sahyu Al Arabiy (Zionis Arab) dan Mu'amarah (konspirasi).

Zionis Arab maksudnya perang pada 2014  ini telah membukakan mata bahwa  ada ribuan hati Yahudi dalam tubuh Muslim. Mereka Muslim, mereka beragama Islam tetapi hati mereka berpihak kepada Yahudi ketimbang membela saudara mereka di Gaza.

Sementara soal konspirasi, perang Gaza 2014 ini juga membuka mata adanya konspirasi global kelompok-kelompk Islam dan pemerintahan negeri-negeri Islam yang lebih berpihak pada Isarel dibandingkan kepada Palestina.

"Saya tak ingin menyebutkan nama negaranya, sensitif.  Ini saya dapatkan dari media-media mereka sendiri," kata Bachtiar dalam pertemuan Halal bi Halal dan konferensi peras "Kemenangan Gaza" di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis sore 28 Agustus 2014 lalu.

Atas fenomena ini, lanjut Bachtiar, saat ini beredar pepatah Arab: "dulu kami mengira Gaza lah duri di dunia Arab, tapi pada 2014 ternyata seluruh dunia Arab terjajah kecuali Gaza yang berani melawan."

Fakta ini sekaligus membuktikan sebenarnya pusat kekuatan ada di dalam Gaza sendiri. Sama seperti pada perang 1967, saat itu kelemahan Mesir juga ada di Mesir sendiri. "Bantuan dari luar hanyalah penunjang," kata Bachtiar.

(SI/Istiqomah)
Back to top