.
Diberdayakan oleh Blogger.

Imam Syafi'i Pembela Sunnah

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.
Mazhab Syafi’i adalah salah satu mazhab fiqh terbesar di dunia Islam. Pendirinya adalah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H) yang dijulukinaashirussunnah, artinya pembela sunnah.
As-Syafi’i adalah seorang muhaddits besar (ahli hadits), namun karena prestasi beliau di bidang fiqih sangat fenomenal, ke-muhadditsan beliau jadi tidak begitu kelihatan. Kalah dengan cahaya sosok beliau sebagai ahli fiqih yang jauh lebih terang. Ibarat cahaya bintang yang sedemikian terang di malam yang gelap, begitu datang sinar matahari, maka cahaya bintang seakan redup.
Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati dalam menggunakan hadits. Beliau tidak akan mengguatkan suatu hadits yang dhaif atau lemah untuk membangun pendapatnya. Kalau pun ada hadits yang beliau gunakan dan dituduh sebagai hadits lemah, sesungguhnya tidak demikian, karna boleh jadi beliau punya jalur dan sanad khusus yang tidak dimiliki oleh paramuhaddits lainnya.
Yang menarik, ternyata silsilah yang beliau miliki adalah silsilah yang paling shahih yang pernah ada di muka bumi. Yang mengatakan demikian adalah maestro kritik hadits sendiri, Al-Bukhari. Sebab As-Syafi’i adalah murid Al-Imam Malik dan mengambil riwayat darinya. Dalam dunia hadits dikenal istilah silsilah dzahabiyah, rantai emas, yaitu jalur periwayatan yang paling shahih, yaitu jalur sanad dari Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar. Al-Bukhari mengatakan tidak ada jalur periwayatan yang lebih shahih dari jalur ini. Dan Al-Imam Asy-Syafi’i berada di dalam jalur ini, karena beliau mengambil hadits dari Al-Imam Malik.
Bahkan kitab Al-Muwaththa’ karya Al-Imam Malik telah dihafalnya dalam waktu hanya 9 hari di usia 13 tahun.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang sosok Asy-Syafi’i dengan pertanyaan, apakah Asy-Syafi’i seorang ahli hadits? Maka Imam ahli hadits ini menjawab dengan sangat tegas, “Demi Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli hadits.”
Al-Imam Ar-Razi pernah berkata bahwa Asy-Syafi’i menulis kitab hadits secara khusus, yaitu Musnad Asy-Syafi’i. Itu adalah kitab hadits yang teramat masyhur di dunia ini. Tidak ada seorang pun dari ahli hadits dan mengerti ilmunya yang bisa mengkritik kitab ini. Kalau pun ada penolakan, datangnya dari mereka yang sama sekali tidak mengerti ilmu hadits, yaitu dari paraahli ra’yi (ahli akal).
Nasab Asy-Syafi’i
As-Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 hijriyah di Gaza, Palestina. Dahulu disebut dengan wilayah Syam.Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek beliau Abdul Manaf. Ia merupakan keturunan Bani Quaraisy sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Masa Kanak-kanak: Hafal Quran, Syair dan Ahli Bahasa Arab
Pada usia 2 tahun,As-Syafi’i ditinggal wafat ayahnya. Sang ibu kemudian membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyangnya. Disanalah beliau tumbuh besar dalam keadaan yatim.
Sejak kecil As-Syafi’i cepat menghafal Quran. Diriwayatkan bahwa beliau telah hafal Quran di usia yang teramat dini, yaitu 5 tahun. Selain Quran, beliau juga banyak menghafal syair sastra Arab yang indah dan pandai bahasa Arab secara nahwu dan sharf. Sampai-sampai Al-Ashma’i berkata, ”Saya mentashih syair-syair Bani Hudzail dari seorang pemuda Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris, Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.”
Masa Remaja: Menjadi Mufti Termuda
Di Mekah, As-Syafi’i berguru fiqih kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az-Zanji. Karena ketekunannya, semua ilmu fiqih dilalapnya dengan cepat. Beliau juga cerdas dan benar-benar seorang yang berbakat menjadi mufti.
Az-Zanji mengakui kemampuan muridnya yang ajaib itu sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun. Wah, luar biasa. Kalau sekedar jadi mufti di kampung-kampung atau di pelosok pedesaan, wajar-wajar saja.Tapi ini menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah, tempat yang begitu mendunia, didatangi oleh jutaan umat manusia setiap tahunnya. Di tempat yang paling mulia di muka bumi itulah, As-Syafi’i menjadi mufti dalam usia yang teramat belia.
Mahasiswa Pasca Sarjana Madinah Imam Malik
Merasa masih kurang ilmu, As-Syafi’i mendengar bahwa di Madinah (Masjid Nabawi) ada seorang alim besar yang ilmunya sangat luas dan mendalam. Beliau adalah Al-Imam Malikrahimahullah.
Maka As-Syafi’i muda bertekad belajar dan berguru kepada tokoh besar dunia Islam itu. Tapi kelas itu adalah kelas untuk ulama besar, bukan untuk anak muda belia berusia belasan tahun. Namun As-Syafi’i tidak pantang mundur. Meski kelas itu khusus untuk ulama sepuh, beliau tetap penasaran ingin belajar kepada Al-Imam Malik. Berbekal hafalankitab Al-Muwaththa’ yang tebal itu, As-Syafi’i mendaftarkan diri. Akhirnya beliau diterima mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam.
Ke Yaman
Puas menyerap semua ilmu Al-Imam Malik, As-Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan.
As-Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukh-nya.
Di Baghdad, As-Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qadim).Kemudian beliau pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah”, buku pertama tentang ushul fiqh, dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. As-Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz.
Imam Ahmad berkata tentang As-Syafi’i, ”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al-Quran dan As Sunnah. Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”.
Thasy Kubri mengatakan di Miftahus Sa’adah, ”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap, ”
Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah.
As-Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”.
Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Sementara kitab “Al-Umm” sebagai mazhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman.
As-Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya, ”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Demikian sekilas tentang sosok As-Syafi’i rahimahullah. Untuk mendalaminya, kita bisa membaca begitu banyak rujukan dan literatur, baik yang lama maupun yang modern berbentuk disertasi ilmiyah.
Yang lumayan komplit dan ilmiyah adalah kitab yang ditulis oleh seorang ulama besar Indonesia yang telah menghabiskan 40tahunan lebih masa hidupnya di Mesir dan Saudi. Beliau adalah Dr. Nahrawi Abdussalam almarhum, dan untuk disertasinya beliau menulis kitab Al-Imam Asy-Syafi’i baina madzhabaihil qadim wal jadid.” (Al-Imam Asy-Syafi’i: Di antara dua pendapatnya yang lama dan yang baru).
Kitab setebal 700-an halaman ini, sayangnya, belum ada yang menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.



Menakar Amal Kita

Apakah kita akan menjadi orang yang suka menganjurkan sementara justru lupa diri sendiri? Sudah semestinya kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah menggerakkan hati kita untuk memenuhi panggilan-Nya melaksanakan shalat Jum'at. Betapa banyak saudara kita yang biasa berangkat ke masjid pada hari ini terpaksa tidak bisa hadir karena terbaring sakit. Mereka ingin memenuhi panggilan Allah, tapi apa daya kesehatan tidak memungkinkan.

Banyak juga diantara saudara kita yang pada hari ini dalam keadaan segar-bugar, sehat wal afiat tapi tidak bisa hadir di masjid untuk ruku' dan sujud kepada Sang Pencipta kehidupan. Mereka disibukkan mencari kebutuhan hidup, sehingga tidak sempat untuk mencari bekal setelah hidup. Mereka disibukkan oleh pekerjaan yang memang tidak pernah ada habisnya. Jasmani mereka siap untuk memenuhi panggilan Allah, tapi rohaninya menolak.

Lebih banyak lagi saudara kita yang hatinya terpaut ke masjid, tapi karena kondisi yang sulit mereka rela mengorbankan panggilan hatinya, demi untuk sesuap nasi. Mereka adalah para buruh pabrik yang tidak diberi kesempatan oleh para majikannya untuk menunaikan shalat Jum'at. Mereka adalah para pelayan toko yang terpaksa absen karena takut dipecat. Mereka adalah para buruh bangunan yang diawasi ketat oleh mandornya agar tidak meninggalkan tugas sebelum jam yang telah ditetapkan. Mereka adalah saudara-saudara kita yang lemah, yang terpaksa melakukan hal ini karena didorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak. Pada pundak mereka tergantung beberapa mulut yang harus disuapi.

Alhamdulillah, sekali lagi kita perlu bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengetuk hati kita, memberi kesehatan kepada kita, memberi kesempatan yang cukup untuk melakukan ruku' dan sujud kepada-Nya. Semoga karunia yang besar ini dapat kita pertahankan, kalau bisa kita kembangkan. Semoga Allah tidak segera mencabut karunia yang besar ini. Untuk itu kita harus pandai-pandai mensyukurinya.

"Dan takala Rabbmu mema'lumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7)

Ketika bangun tidur pagi tadi, apakah kita sudah membaca do'a sebagai rasa syukur kita kepada-Nya? Sepertinya do'a itu sepele saja, tapi dengan cara apa lagi kita mensyukuri nikmat pemberian Allah, jika berdo'a saja kita enggan melakukannya? Sayang, banyak diantara kita yang pandai mengajarkan do'a kepada anak-anak, tapi lupa diri sendiri. Ketika anak kita mau makan, kita tuntun mereka berdo'a terlebih dahulu. Akan tetapi jika tiba giliran kita yang makan, malah lupa berdo'a. Demikian juga ketika anak menjelang tidur, kita ajarkan mereka untuk melafalkan do'a terlebih dahulu. Akan tetapi jika kita sendiri mau tidur, langsung rebah tanpa didahului do'a, bahkan posisi tidur pun tidak sesuai dengan sunnah Rasul.

Ini kenyataan yang mesti kita sadari. Jika kenyataan ini terus berulang, dikhawatirkan kita akan terkena teguran Allah yang amat keras sebagaimana dalam firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (QS. As-Shaaf: 2-3)

Memang, bicara itu lebih mudah daripada berbuat. Ringan saja bagi kita menganjurkan seseorang agar bersabar ketika ditimpa musibah, tapi jika kita sendiri yang terkena musibah itu baru terasa betapa sulitnya bersabar. Jika para mubaligh itu tugasnya hanya menyampaikan da'wah islamiyah saja, maka sungguh ringan tugasnya. Tapi tugas para muballigh akan menjadi berat jika dipundaknya terletak tanggungjawab untuk menjadi pelopor kebaikan itu sendiri. Sekedar menjadi penganjur kebaikan itu tidak susah, yang berat justru menjadi teladan kebaikan.

Kebanyakan wibawa orang tua di hadapan anak-anaknya jatuh karena masalah ini. Orang tua menganjurkan anaknya mengaji, tapi mereka sendiri tidak pernah membuka Al-Qur'an. Bibirnya juga tidak pernah melantunkan ayat suci itu. Orang tua menganjurkan anak-anaknya pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjama'ah, tapi ayahnya sendiri shalat di rumah saja, itupun ditunda-tunda waktunya.

Ayah sangat marah bila ketahuan anaknya merokok, sementara dia sendiri tidak pernah berhenti merokok. Orang tua tidak suka anaknya bertengkar dengan anak tetangga, tapi mereka selalu bertengkar di hadapan anak-anaknya. Kenyataan ini memang sangat memprihatinkan. Coba dalam kesempatan seperti ini kita kembali merenungi kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita, lebih penting lagi mendidik diri kita sendiri.

Kembali pada soal do'a bangun tidur, kenapa hal yang kita anggap remeh dan kecil itu mesti diajarkan oleh Islam? Masalah tidur dan bangun tidur sebenarnya bukan persoalan sepele. Alangkah banykanya orang yang kesulitan tidur. Sudah berjam-jam mereka beringkan tubuhnya, mereka pejamkan matanya, tapi nyatanya tidak bisa tidur juga. Mereka yang fasilitas tidurnya lebih nyaman, kamar ber-AC, kasurnya empuk, didampingi juga oleh istri yang cantik, ternyata justru yang paling banyak mengalami gangguan tidur.

Di Barat, banyak orang baru bisa tidur setelah terlebih dahulu minum obat penenang. Gejala ini mulai merembet ke negeri kita. Banyak eksekutif yang mengalami gangguan ini, demikian juga orang sibuk lainnya. Itulah sebabnya buku psikologi yang membahas cara tidur yang nyenyak tanpa obat menjadi laris di pasaran. Ini pertanda bahwa tidur itu bukan persoalan sederhana.

Kita bisa membayangkan jika sewaktu-waktu kita tidak bisa tidur hingga sepekan, alangkah sakitnya. Mungkin kita sudah tidak bisa tinggal di rumah, tapi harus dikirim ke rumah sakit. Sekedar untuk bisa tidur saja harus mengeluarkan uang berjuta-juta, sambil juga meninggalkan pekerjaan yang berarti rugi dua kali.
Sekarang kita kembali menanyakan kepada diri kita sendiri, adakah ketika kita bangun tadi pagi sudah mengucapkan syukur kepada-Nya dengan membaca do'a sebagaimana yang diajarkan Nabi? Jika belum tahu do'anya, mari kita bertanya kepada yang tahu atau membaca buku do'a. Yang lupa, mari kita segera beristighfar kepada-Nya.

Kita lanjutkan muhasabah kita, kali ini kita teliti apa saja yang telah kita perbuat sesudah bangun tidur hingga sekarang. Apakah perbuatan kita sudah sepadan dengan fasilitas yang disediakan Allah kepada kita? Sungguh hidup di dunia ini adalah kesempatan yang mahal harganya, dan hanya terjadi sekali, tidak akan berulang lagi. Sekali ini tidak kita manfaatkan, kita bakal menyesal selama-lamanya. Jangan seperti rintihan orang-orang kafir yang meminta kepada Allah agar diberi kesempatan hidup lagi agar bisa berbuat baik.

Jika sekarang ini kita berada di masjid, memenuhi undangan Allah melaksanakan shalat Jum'at, kita bertanya, apakah dalam pelaksanaan ibadah Jum'at ini kita telah khusyu' mulai dari persiapan ibadah Jum'at, berangkat ke masjid, mendengarkan khutbah, hingga shalat Jum'atnya? Jika belum, kenapa? Sudahkah kita berusaha secara sungguh-sungguh dengan niat yang tulus mengahap kepada Allah? Insya Allah jika ada usaha, Allah pasti membukakan jalan-Nya. Tapi jika kita laksanakan shalat ini dengan hati yang kosong, tanpa mujahadah yang memadai, bagaimana mungkin kita bisa khusyu', apalagi bisa menikmati shalat itu sendiri.

Terakhir, Allah memerintahkan kepada kita untuk segera beranjak dari masjid ini setelah kita laksanakan shalat Jum'at, untuk mencari karunia-Nya. Kenapa kita malah berbaring, tidur-tiduran, bermalas-malasan setelah kita tunaikan kewajiban? Bukankah Allah berfirman: "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah: 10)

(af/istiqomah)

Inspirasi : "Vision, Mission, Strategy, Goal" Dari HAMAS



Kita bangsa Indonesia juga butuh yang kayak gini:

Abdul Aziz ar Rantisi lebih dari 10 tahun yang lalu berkata: "Kita akan menyerang Haiva dan Tel Aviv", ini namanya "vision".

10 tahun yang lalu Ja'bari mengatakan: "Kita akan bekerja dari sekarang untuk mempersiapkan kader-kader sampai mereka siap memerangi zionis". Ini namanya "mission".

Ismail Haniyah pada perperangan ini berkata: "Sasaran kita pada perang kali ini adalah bagaimana pada beberapa bulan ke depan kita memiliki bandara dan pelabuhan kapal laut". Ini namanya: "short-term goal".

Muhammad Abu Dhaif, panglima tertinggi yang tidak ketahuan wujudnya dan tidak seorang pun yang mengetahui siapa ia sebenarnya sampai saat ini menyampaikan keterangannya melalui rekaman suara. Ini namanya "strategy".

Dalam rekaman pidatonya itu ia menyebarkan ruh jihad betapapun banyaknya kerugian dan korban jiwa. Ini namanya "self motivation".

Syekh Ahmad Yasin berkata: "sasaran akhir kita adalah pembebasan mesjid al Aqsha". Ini namanya "goal".

Abu 'Ubaidah: Akan ditemukan dalam kenyataan bahwa rakyat Palestina mengatakan: "Kami akan mendukung perlawanan sekalipun semua kami akan terbunuh". Ini tidak akan ditemukan dalam kamus bisnis. Ini namanya:

"فأنزل الله سكينته على رسوله وعلى المؤمنين"


"Maka Allah menurunkan "sakinah" ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman". (al Fath: 26)

(Zulfi Akmal)

Tahrir Filistin Kulli Filistiin,Target HAMMAS Selanjutnya


Istiqomah-Melihat rekaman taujih Dr. Mahmoud Zahhar, salah seorang pimpinan HAMAS yang paling dicari Israel, air mata ini tak kuat membasahi pipi. Betapa rakyat Gaza, memahami firman Allah; "Faidzaa faraghta fanshab". Usai menuntaskan satu tugas, maka songsong tugas yang lain.

Ya. Tugas perlawanan Al-'Ashf Al-Ma'kulyang dicanangkan HAMAS-Jihad Islam, sukses memupus mitos pasukan Israel yang tak terkalahkan. Pasukan dengan persenjataan didukung 11 negara produsen utama alutsista dunia. Namun semua menjadi tak berdaya, tak ubahnya daun yang dimakan ulat berserakan.


Kini target HAMAS adalah tahrir Filishtiin kulli Filishtiin (membebaskan/memerdekakan Palestina semua Palestina). Ingat bukan 'Tahrir' (HT) yang waktu Gaza digempur 51 hari, tengah mengadakan muktamar di Libanon. Tapi tahrir di sini adalah, memerdekakan seluruh Palestina dengan jihad bersenjata plus kekuatan diplomatik dengan memenangkan kekuasaan secara demokratis walau kekuasaan itu pun tidak diakui Barat.


Maka tugas HAMAS semakin terarah. Makin percaya diri dengan kemampuan lulusan-lulusan dalam negeri Universitas Gaza. Mereka mampu secara nyata memproduksi alutsista yang mampu mengancam Panglima AB Israel, dan memecat wakil Menhan Israel serta menggerus pengaruh politik Netanyahu di Israel dan As-Sisi di Mesir. Plus, mempermalukan Saudi Arabia, Emirates, dan Iran.


Tantangan HAMAS diperparah dengan keberpihakan media Arab terhadap Israel. Saya mengamati, TV-T dan media cetak Arab menampilkan istilah-istilah yang "ramah" terhadap Israel dan "garang" terhadap HAMAS. Seakan semua sepakat, HAMAS adalah bahaya laten yang mengancam keberadaan rezim-rezim Arab yang berkuasa karena diberi jatah oleh Inggris, sebagai imbalan atas pemberontakan melawan Turki Utsmani.


Selamat wahai HAMAS-Jihad Islam. Rakyat Indonesia yang sehat dan cinta kemerdekaan, selalu terdepan mendukungmu. Bukan dengan caci maki atau menebar janji palsu peraih simpatik.



(By: Nandang Burhanudin)

IMAM GAZALI

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i(lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid, Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh.
Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
Sifat Kepribadian - Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan.
Sebelum beliau memulai pengembaraan, beliau telah mempelajari karya ahli sufi ternama sepertial-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islamyang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi.
Sejak kecil lagi beliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara', zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.
Pendidikan - Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih,filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut.
Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana.
Ia telah mengembara ke beberapa tempat sepertiMekkah,Madinah,Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
Karya-karyanya :
Tasawuf[sunting | sunting sumber]
·         Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)[4], merupakan karyanya yang terkenal
·         Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)[5]
·         Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)
Filsafat[sunting | sunting sumber]
·         Maqasid al-Falasifah
·         Tahafut al-Falasifah,[6] buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi olehIbnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
·         Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul
Logika[sunting | sunting sumber]
·         Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
·         Al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
·         Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)


Back to top