.
Diberdayakan oleh Blogger.

Adebayor: " Yesus Membimbingku Pada Islam".


Istiqomah – Hampir sebulan setelah mengumumkan memeluk Islam, striker Tottenham Emmanuel Adebayor mengungkapkan alasan di balik keputusannya tersebut. Ia mengatakan bahwa sejumlah alasan yang menuntunnya untuk mendapatkan kebenaran.
“Yesus (Nabi Isa A.S) mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya Tuhan yang harus disembah seperti yang diajarkan dalam Ulangan 6: 4, Markus 12:29. Muslim juga percaya ini seperti yang diajarkan dalam Al Qur’an surta ke 4 ayat 171, ” ungkap Adebayor seperti dikutip The Herald, demikian lansir onislam.net, Selasa 4 Agustus.
Di antara alasan memeluk Islam adalah bahwa Nabi Isa tidak makan daging babi seperti yang umat Muslim lakukan, karena babi identik dengan kotor dan tidak sehat untuk dimakan.
Kata-kata seperti “Assalaamu Alaikum” dan “Insya Allah’, yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi Muhammad, menurut pesepakbola asal Togo itu juga diajarkan oleh Nabi Isa.
“Yesus mencuci muka, tangan, dan kaki sebelum berdoa. Kaum Muslim melakukan hal yang sama. Yesus dan nabi-nabi lain dari Alkitab berdoa dengan melatakkan kepala mereka ke tanah (lihat Matius 26:39). Muslim melakukan juga seperti yang diajarkan dalam Al Qur’an surat 3 ayat 43,” Adebayor menegaskan.
“Yesus memiliki jenggot dan mengenakan jubah. Hal ini Sunnah bagi pria Muslim untuk melakukan hal yang sama. Yesus (as) mengikuti hukum (Tuhan) dan percaya pada semua nabi, (lihat Matius 5:17). Muslim melakukan juga seperti yang diajarkan dalam Al Qur’an surat 3 ayat 84, dan surat 2 ayat 285″.
Mengutip kesederhanaan ibu nabi Isa yakni Siti Maryam, yang menggunakan pakaian sopan dengan sepenuhnya menutupi tubuhnya dan mengenakan jilbab, Adebayor mengatakan bahwa wanita Muslim diminta untuk berpakaian sopan dan memakai jilbab juga, mode wajib bagi muslimah.
Dia melanjutkan dengan mengatakan: “Yesus disunat. Sunat adalah 1 dari 5 fitrah dalam Islam, sehingga orang-orang Muslim diwajibkan untuk disunat juga.
“Sekarang katakan siapa pengikut Yesus yang sejati? Jelas Muslim. Sekarang saya adalah seorang pengikut sejati Yesus, ” katanya.
Adebayor melalui halaman instagramnya, mengucapkan selamat Idul Fitri. Menampilkan foto dirinya mengenakan gamis khas Arab berwarna putih.

SYARIFUDDIN KHALIFAH KINI DEWASA


Kembali mengingat peristiwa tahun 90-an, dunia saat itu gempar dengan berita besar seorang bayi berumur 2 bulan dari keluarga Katholik di Afrika yang menolak dibaptis. 
“Mama, unisibi baptize naamini kwa Allah, na jumbe wake Muhammad” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).
Ayah dan ibunya, Domisia-Francis, pun bingung. Kemudian didatangkan seorang pendeta untuk berbicara kepada bayinya itu: “Are You Yesus?” (Apakah kamu Yesus?).
Kemudian dengan tenang sang bayi Syarifuddin menjawab:“No, I’m not Yesus. I’m created by God. God, The same God who created Jesus” (Tidak, aku bukan Yesus. Aku diciptakan oleh Tuhan, Tuhan yang sama dengan yang menciptakan Yesus). Saat itu ribuan umat Kristen di Tanzania dan sekitarnya dipimpin bocah ajaib itu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Bocah Afrika kelahiran 1993 itu lahir di Tanzania Afrika, anak keturunan non Muslim. Sekarang bayi itu sudah remaja, setelah ribuan orang di Tanzania-Kenya memeluk agama Islam berkat dakhwahnya semenjak kecil. Syarifuddin Khalifah namanya, bayi ajaib yang mampu berbicara berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Ia pun pandai berceramah dan menterjemahan al-Quran ke berbagai bahasa tersebut. Hal pertama yang sering ia ucapkan adalah: “Anda bertaubat, dan anda akan diterima oleh Allah Swt.”
Syarifuddin Khalifah hafal al-Quran 30 juz di usia 1,5 tahun dan sudah menunaikan shalat 5 waktu. Di usia 5 tahun ia mahir berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Satu bukti kuasa Allah untuk menjadikan manusia bisa bicara dengan berbagai bahasa tanpa harus diajarkan.
Latar Belakang Syarifuddin Khalifah
Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal al-Quran dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Swt.
Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animisme. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.
Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.
Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).
Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.
Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan.
Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal aneh. Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi: “Fatuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwattawwaburrahiim.”
Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. al-Baqarah ayat 54.
Domisia khawatir anaknya kerasukan setan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan setan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.
“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan setan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah,” kata Abu Ayub.
Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.
Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal al-Quran dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.
Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang
Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru 5 tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.
Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.
Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syaikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.
Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal al-Quran pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung.
Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.
Kinilah saatnya Syaikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.
Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka.
Selain pandai menggunakan ayat al-Quran, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.
Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syaikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalami tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”
Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.
Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syaikh kecil itu masih lima tahun.
Para ulama dan habaib sangat mendukung dakwah Syaikh Syarifuddin Khalifah. Bahkan ulama besar seperti al-Habib ali al-Jufri pun rela meluangkan waktunya untuk bertemu anak ajaib yang kini remaja dan berjuang dalam Islam. (Dikutip dari buku Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah).

RASA MALU

Suatu hari di bulan Ramadhan, Syaikh Yusuf Qaradhawi terpaksa menempuh perjalanan kaki sejauh 11 KM dari Thantha ke Kfar Syaikh. 
Itu dilakukan oleh ulama terkemuka dunia ini ketika beliau masih mahasiswa. Kala itu beliau diminta mengisi kajian di Thantha.
Setelah kajian usai, saatnya Yusuf Qaradhawi pulang, namun panitia tidak memberikan sepeser uang pun kepada beliau. Panitia kajian di Thantha mengira bahwa Panitia di Kfar Syaikh telah memberikan uang transportasi untuk Qaradhwi. 
Sedang panitian di Kfar Syaikh justru menyangka bahwa panitia di Thantha yang akan memberikan ongkos bis untuk pengisi kajian hari itu.
Setelah kajian usai, Qaradhawi mohon diri. Tanpa disertai panitia ke halte bis. Yusuf Qaradhawi yang sadar tidak punya uang sama sekali, merasa malu untuk berterus terang kepada panitia. Maka beliau pun memutuskan untuk jalan kaki.
Adzan maghrib berkumandang, Qardhawi pun singgah di masjid terdekat. Beliau membatalkan puasanya dengan minum air kran, kemudian melanjutkan berwudhu untuk shalat maghrib. Seusai shalat, beliau berjumpa dengan seorang sahabatnya, "Sudah berbuka?" tanya Sang Sahabat. "Oh, sudah, alhamdulillah," jawab Qaradhawi cepat. 
Padahal maksud sahabat bertanya, apakah beliau sudah makan, sudah minum, sebagaimana layaknya orang berbuka.
Yusuf Qaradhwi merasa malu untuk berterus terang. Pun beliau tidak berterus terang bahwa beliau sebenarnya kelelahan karena berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Lapar sudah pasti melilit perut beliau. Namun rupanya rasa malu mengalahkan rasa lapar dan penat seorang Yusuf Qaradhawi.
Sodara, puasa yang saat ini tengah kita jalani, mari kita jadikan sebagai media untuk mengembalikan rasa malu yang sebagiannya telah banyak tercerabut dari diri kita. Sebab berbagai keburukan dan kejahatan yang dilakukan manusia lebih banyak karena tiadanya rasa malu.
Yusuf Qaradhawi memilih kelelahan dan kelaparan daripada menggadaikan rasa malunya. Kita mungkin tidak dituntut harus seperti itu. Tapi, setidaknya mari kita genggam rasa malu sebagaimana norma agama maupun norma yang disepakati di tengah masyarakat.

Sumber : fanpage ust. Abrar Rifai

Umar Bersaing dalam Beramal

Pada masa Khulafaur Rasyidin radhiallahu ‘anhum, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya. Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhuma termasuk orang yang gigih bersaing di dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.

Ada sebuah kisah yang terjadi pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Pada saat itu Umar mengawasi apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan berbuat lebih dari Abu Bakar dalam hal kebaikan.

Suatu hari, Umar mengawasi Abu Bakar di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya di situ.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Sumber: Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf

Imam Syafi'i Pembela Sunnah

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.
Mazhab Syafi’i adalah salah satu mazhab fiqh terbesar di dunia Islam. Pendirinya adalah Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H) yang dijulukinaashirussunnah, artinya pembela sunnah.
As-Syafi’i adalah seorang muhaddits besar (ahli hadits), namun karena prestasi beliau di bidang fiqih sangat fenomenal, ke-muhadditsan beliau jadi tidak begitu kelihatan. Kalah dengan cahaya sosok beliau sebagai ahli fiqih yang jauh lebih terang. Ibarat cahaya bintang yang sedemikian terang di malam yang gelap, begitu datang sinar matahari, maka cahaya bintang seakan redup.
Beliau adalah orang yang sangat berhati-hati dalam menggunakan hadits. Beliau tidak akan mengguatkan suatu hadits yang dhaif atau lemah untuk membangun pendapatnya. Kalau pun ada hadits yang beliau gunakan dan dituduh sebagai hadits lemah, sesungguhnya tidak demikian, karna boleh jadi beliau punya jalur dan sanad khusus yang tidak dimiliki oleh paramuhaddits lainnya.
Yang menarik, ternyata silsilah yang beliau miliki adalah silsilah yang paling shahih yang pernah ada di muka bumi. Yang mengatakan demikian adalah maestro kritik hadits sendiri, Al-Bukhari. Sebab As-Syafi’i adalah murid Al-Imam Malik dan mengambil riwayat darinya. Dalam dunia hadits dikenal istilah silsilah dzahabiyah, rantai emas, yaitu jalur periwayatan yang paling shahih, yaitu jalur sanad dari Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar. Al-Bukhari mengatakan tidak ada jalur periwayatan yang lebih shahih dari jalur ini. Dan Al-Imam Asy-Syafi’i berada di dalam jalur ini, karena beliau mengambil hadits dari Al-Imam Malik.
Bahkan kitab Al-Muwaththa’ karya Al-Imam Malik telah dihafalnya dalam waktu hanya 9 hari di usia 13 tahun.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang sosok Asy-Syafi’i dengan pertanyaan, apakah Asy-Syafi’i seorang ahli hadits? Maka Imam ahli hadits ini menjawab dengan sangat tegas, “Demi Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli hadits.”
Al-Imam Ar-Razi pernah berkata bahwa Asy-Syafi’i menulis kitab hadits secara khusus, yaitu Musnad Asy-Syafi’i. Itu adalah kitab hadits yang teramat masyhur di dunia ini. Tidak ada seorang pun dari ahli hadits dan mengerti ilmunya yang bisa mengkritik kitab ini. Kalau pun ada penolakan, datangnya dari mereka yang sama sekali tidak mengerti ilmu hadits, yaitu dari paraahli ra’yi (ahli akal).
Nasab Asy-Syafi’i
As-Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 hijriyah di Gaza, Palestina. Dahulu disebut dengan wilayah Syam.Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek beliau Abdul Manaf. Ia merupakan keturunan Bani Quaraisy sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Masa Kanak-kanak: Hafal Quran, Syair dan Ahli Bahasa Arab
Pada usia 2 tahun,As-Syafi’i ditinggal wafat ayahnya. Sang ibu kemudian membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyangnya. Disanalah beliau tumbuh besar dalam keadaan yatim.
Sejak kecil As-Syafi’i cepat menghafal Quran. Diriwayatkan bahwa beliau telah hafal Quran di usia yang teramat dini, yaitu 5 tahun. Selain Quran, beliau juga banyak menghafal syair sastra Arab yang indah dan pandai bahasa Arab secara nahwu dan sharf. Sampai-sampai Al-Ashma’i berkata, ”Saya mentashih syair-syair Bani Hudzail dari seorang pemuda Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris, Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.”
Masa Remaja: Menjadi Mufti Termuda
Di Mekah, As-Syafi’i berguru fiqih kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az-Zanji. Karena ketekunannya, semua ilmu fiqih dilalapnya dengan cepat. Beliau juga cerdas dan benar-benar seorang yang berbakat menjadi mufti.
Az-Zanji mengakui kemampuan muridnya yang ajaib itu sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun. Wah, luar biasa. Kalau sekedar jadi mufti di kampung-kampung atau di pelosok pedesaan, wajar-wajar saja.Tapi ini menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah, tempat yang begitu mendunia, didatangi oleh jutaan umat manusia setiap tahunnya. Di tempat yang paling mulia di muka bumi itulah, As-Syafi’i menjadi mufti dalam usia yang teramat belia.
Mahasiswa Pasca Sarjana Madinah Imam Malik
Merasa masih kurang ilmu, As-Syafi’i mendengar bahwa di Madinah (Masjid Nabawi) ada seorang alim besar yang ilmunya sangat luas dan mendalam. Beliau adalah Al-Imam Malikrahimahullah.
Maka As-Syafi’i muda bertekad belajar dan berguru kepada tokoh besar dunia Islam itu. Tapi kelas itu adalah kelas untuk ulama besar, bukan untuk anak muda belia berusia belasan tahun. Namun As-Syafi’i tidak pantang mundur. Meski kelas itu khusus untuk ulama sepuh, beliau tetap penasaran ingin belajar kepada Al-Imam Malik. Berbekal hafalankitab Al-Muwaththa’ yang tebal itu, As-Syafi’i mendaftarkan diri. Akhirnya beliau diterima mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam.
Ke Yaman
Puas menyerap semua ilmu Al-Imam Malik, As-Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan.
As-Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukh-nya.
Di Baghdad, As-Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qadim).Kemudian beliau pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah”, buku pertama tentang ushul fiqh, dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. As-Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz.
Imam Ahmad berkata tentang As-Syafi’i, ”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al-Quran dan As Sunnah. Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”.
Thasy Kubri mengatakan di Miftahus Sa’adah, ”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap, ”
Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah.
As-Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”.
Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Sementara kitab “Al-Umm” sebagai mazhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman.
As-Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya, ”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Demikian sekilas tentang sosok As-Syafi’i rahimahullah. Untuk mendalaminya, kita bisa membaca begitu banyak rujukan dan literatur, baik yang lama maupun yang modern berbentuk disertasi ilmiyah.
Yang lumayan komplit dan ilmiyah adalah kitab yang ditulis oleh seorang ulama besar Indonesia yang telah menghabiskan 40tahunan lebih masa hidupnya di Mesir dan Saudi. Beliau adalah Dr. Nahrawi Abdussalam almarhum, dan untuk disertasinya beliau menulis kitab Al-Imam Asy-Syafi’i baina madzhabaihil qadim wal jadid.” (Al-Imam Asy-Syafi’i: Di antara dua pendapatnya yang lama dan yang baru).
Kitab setebal 700-an halaman ini, sayangnya, belum ada yang menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.



IMAM GAZALI

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i(lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid, Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh.
Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
Sifat Kepribadian - Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan.
Sebelum beliau memulai pengembaraan, beliau telah mempelajari karya ahli sufi ternama sepertial-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islamyang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi.
Sejak kecil lagi beliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara', zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.
Pendidikan - Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih,filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut.
Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana.
Ia telah mengembara ke beberapa tempat sepertiMekkah,Madinah,Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
Karya-karyanya :
Tasawuf[sunting | sunting sumber]
·         Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)[4], merupakan karyanya yang terkenal
·         Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)[5]
·         Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)
Filsafat[sunting | sunting sumber]
·         Maqasid al-Falasifah
·         Tahafut al-Falasifah,[6] buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi olehIbnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
·         Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul
Logika[sunting | sunting sumber]
·         Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
·         Al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
·         Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)


Back to top